Pengecer hardware Prancis LDLC menjual GPU RTX 5090 yang rusak akibat kerusakan pengiriman dengan harga setengah dari harga normal, mulai dari 1.499,95 euro (sekitar Rp 28 juta). Kartu grafis tersebut dijual tanpa garansi dan hanya cocok untuk profesional yang mampu memperbaiki atau mendaur ulang komponen elektroniknya.
LDLC, pengecer PC hardware terbesar di Prancis, membuka halaman jual beli khusus untuk RTX 5090 yang tidak berfungsi. Listing pertama menawarkan varian RTX 5090 apa pun sesuai stok dengan harga 1.499,95 euro (Rp 28 juta). Untuk varian spesifik MSI Ventus 3X OC, harganya naik menjadi 1.699,95 euro atau sekitar Rp 32 juta.
Keputusan LDLC menjual GPU rusak ini menarik mengingat harga RTX 5090 baru kini melonjak drastis. Di pasaran global, kartu grafis generasi terbaru Nvidia itu dijual di atas Rp 52 juta, padahal beberapa bulan lalu masih di bawah Rp 45 juta. Kelangkaan komponen global menjadi pemicu utama melonjaknya harga.
LDLC secara eksplisit menyebut produk ini sebagai "out of service parts" — artinya tanpa jaminan garansi atau dukungan teknis resmi. Setiap unit sudah diuji dan dikonfirmasi tidak berfungsi karena kerusakan fisik selama transit, seperti PCB yang patah atau mengalami deformasi.
Kendati cacat, LDLC mengklaim semua komponen pada PCB masih utuh, termasuk core GPU dan memory chip. Situasi ini berbeda dengan banyak kasus di industri saat ini di mana komponen berharga sering kali dilepas sebelum unit rusak dipasarkan ulang.
Pengecer tersebut jelas menyatakan target pembeli adalah profesional dengan kemampuan repair atau perusahaan daur ulang elektronik. Harga Rp 28 juta untuk "paperweight" yang tidak hidup memang terasa mahal, tapi berbeda cerita jika bisa diperbaiki.
Kerusakan pengiriman bersifat acak, artinya beberapa unit akan lebih mudah diperbaiki dari yang lain. Jika hanya jalur PCB yang putus, workshop profesional bisa memperbaikinya dengan cepat. Biaya perbaikan tersebut jauh lebih rendah daripada selisih harga beli rusak versus harga jual normal.
Bahkan jika core GPU perlu diganti dengan donor chip dari unit lain, masih ada ruang keuntungan yang signifikan. RTX 5090 sedang menjadi incaran pasar AI saat ini, membuat GPU bekas yang berfungsi dengan baik tetap bernilai tinggi. Perbedaan margin antara Rp 28 juta dan Rp 52 juta sudah cukup untuk menutup biaya repair dan profit.
Strategi LDLC ini adalah langkah cerdas menghindari liability. Toko tidak perlu menjalani klaim garansi atau permintaan pengembalian dana — pembeli sudah tahu risiko dan kondisi barang dengan jelas. Setiap transaksi terjadi atas dasar pengetahuan penuh pembeli bahwa unit tidak bergaransi.
Bagi LDLC, stok RTX 5090 cacat yang mungkin tidak laku normal bisa dialihkan menjadi revenue stream baru. Pembeli profesional mendapat peluang arbitrase harga. Nvidia dan mitra logistik tidak terlibat dalam perselisihan purna-jual. Semua pihak keluar sebagai pemenang — asalkan pembeli benar-benar memahami risiko teknis dan finansial yang dihadapi.
Bagi pengguna biasa di Indonesia yang kebetulan mencari RTX 5090 murah, harus dipahami bahwa beli GPU rusak dari pengecer seperti LDLC bukan jalan keluar. Tidak ada dukungan teknis, tidak ada jaminan perbaikan akan berhasil, dan waktu downtime bisa merugikan produktivitas.
Model penjualan ini hanya relevan untuk repair shop profesional atau perusahaan daur ulang yang memiliki teknis berpengalaman, test equipment lengkap, dan jaringan supplier spare part. Untuk pengguna mainstream, menyisir harga RTX 5090 normal di toko offline atau online lokal tetap menjadi pilihan aman, meski lebih mahal.