Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memerah di awal pekan, turun lebih dari satu persen pada Senin (11/5). Di tengah tekanan yang melanda mayoritas sektor, saham kesehatan justru mencatat penguatan signifikan hingga 5,57%, menjadi satu-satunya sektor yang bergerak kontras.
JAKARTA — Pekan ini dibuka dengan tekanan di lantai bursa. IHSG tergelincir 1,07% ke level 6.894 pada pukul 09.43 WIB, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 6.846. Sebanyak 455 saham ditutup di zona merah, membebani laju indeks sejak bel pembukaan.
Total nilai transaksi tercatat Rp 5,7 triliun dengan volume perdagangan mencapai 12 miliar saham. Posisi rupiah terhadap dolar AS masih berada di kisaran 17.407.
Dari 11 sektor indeks sektoral, hanya dua yang bertahan di zona hijau. Sektor kesehatan memimpin dengan kenaikan spektakuler 5,57%, disusul sektor infrastruktur yang menguat 1,38%. Lonjakan ini terjadi tanpa katalis spesifik dari dalam negeri, namun analis menduga aksi beli terkait sentimen global terhadap emiten farmasi dan alat kesehatan.
Di sisi lain, sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 2,36%. Sektor keuangan ikut merosot 1,37%, sementara sektor industri dan transportasi masing-masing turun 1,53% dan 1,08%.
Di papan perdagangan, saham MEDS memimpin daftar top gainers dengan kenaikan 32,48%. Disusul IKPM yang naik 29,66%, LABS menguat 24,22%, serta KAEF dan PEHA yang sama-sama melesat 23,12%. Lonjakan saham-saham ini mayoritas berasal dari sektor kesehatan dan farmasi.
Sebaliknya, top losers dihuni saham ESIP yang ambles 14,97%, ASPR turun 14,91%, dan SHIP yang merosot 14,90%. Saham NIKL dan MGNA juga tak luput dari tekanan, masing-masing turun 13% dan 11,76%.
Saham BMRI menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp 666,7 miliar. Namun harga saham bank pelat merah ini justru terpangkas 7,34% ke level Rp 4.290. Penurunan ini terjadi setelah saham BMRI dibuka melemah dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 4.630.
Saham BUMI, BRPT, BBRI, dan TINS juga mencatat transaksi besar, dengan nilai masing-masing di atas Rp 230 miliar. Sementara itu, saham PADI menjadi yang paling sering diperdagangkan dengan frekuensi 48.370 kali, disusul MEDS dan BMRI.
Kondisi pasar yang volatil di awal pekan ini menjadi catatan bagi investor ritel untuk mencermati pergerakan sektor defensif seperti kesehatan, yang justru menunjukkan kekuatan di tengah pelemahan indeks.