China Kirim Bantuan Beras Terbesar ke Kuba, Bantu Warga di Tengah Krisis Energi Akut

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Senin, 25 Mei 2026 | 18:37:01 WIB

SUMATERA SELATAN — Krisis energi yang melumpuhkan Kuba mencapai titik kritis. Data perusahaan listrik negara mencatat hingga 64 persen wilayah mengalami pemadaman bersamaan pada Minggu lalu, dengan durasi di Havana mencapai lebih dari 22 jam. Pekan sebelumnya, rekor kelam tercipta ketika 70 persen wilayah padam pada jam konsumsi puncak.

Bantuan China di Tengah Blokade AS

Duta Besar China untuk Kuba, Hua Xin, menyatakan pengiriman beras tersebut merupakan bagian dari paket bantuan darurat untuk membantu Havana menghadapi krisis ekonomi yang memburuk. "Ini adalah bantuan pangan terbesar yang diberikan Beijing kepada Kuba dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyebut bantuan itu sebagai "gestur solidaritas mulia". Ia menekankan bahwa hubungan persahabatan dan kerja sama antara Havana dan Beijing justru menguat di masa-masa krusial seperti sekarang.

Penyebab Kolapsnya Sistem Energi Nasional

Pemerintah Kuba menuding embargo minyak Amerika Serikat sebagai penyebab utama ambruknya sistem energi nasional. Kebijakan Washington itu, yang melengkapi embargo dagang sejak 1962, dinilai sebagai upaya "mencekik" perekonomian Kuba. Situasi semakin parah setelah AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu dan menghentikan pasokan minyak Caracas ke Havana.

Kuba membutuhkan sekitar 100 ribu barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan energinya. Namun produksi domestik hanya mampu memasok sekitar 40 ribu barel. Sejumlah studi independen memperkirakan Kuba memerlukan dana antara US$8 miliar hingga US$10 miliar untuk memulihkan sistem energinya.

Tekanan Politik dan Spekulasi Intervensi Militer AS

Di tengah krisis, pemerintahan Presiden Donald Trump terus meningkatkan tekanan politik terhadap Havana. Kelompok garis keras Kuba-Amerika di Florida selama puluhan tahun mendorong perubahan rezim. Namun para pengamat menilai menggulingkan pemerintahan Diaz-Canel tidak akan semudah operasi terhadap Venezuela.

Menurut Orlando Perez, pakar hubungan Amerika Latin dari University of North Texas, aparat keamanan Kuba telah membongkar hampir semua potensi kekuatan oposisi alternatif. "Militer Kuba lebih solid secara ideologis dibandingkan Venezuela dan lebih siap menghadapi kemungkinan intervensi asing," katanya. Havana juga dianggap memiliki kemampuan pengawasan dan intelijen yang lebih maju berkat kerja sama panjang dengan Uni Soviet dan China.

Kemunculan Raul Castro dan Dakwaan Baru AS

Mantan Presiden Raul Castro, tokoh revolusi berusia 94 tahun, kembali menjadi sorotan. Ia terakhir muncul di depan publik pada peringatan Hari Buruh Internasional, 1 Mei lalu, di kawasan pesisir Havana. Penampilan langka itu terjadi di tengah aksi unjuk kekuatan pemerintah.

Nama Castro mencuat setelah jaksa federal AS mengumumkan dakwaan terhadap dirinya terkait insiden penembakan dua pesawat sipil milik kelompok pengasingan Kuba pada 1996 yang menewaskan empat warga AS. Jaksa Agung sementara AS Todd Blanche menyatakan Washington berharap Castro "akan muncul di sini, atas kehendaknya sendiri atau dengan cara lain". Pernyataan itu, ditambah komentar Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, memicu kembali kekhawatiran akan kemungkinan intervensi militer AS ke Kuba.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top