SUMATERA SELATAN — Pernyataan tersebut disampaikan Wamenag yang akrab disapa Romo Syafi'i saat membuka acara yang digelar Forum Pesantren Alumni Gontor dan Forum Masyarakat Alumni Gontor. Ia menilai nama besar Gontor di kancah internasional merupakan amanah yang harus dijawab dengan program-program berdimensi global.
“Saya bertemu teman-teman di luar negeri, kalau bicara pesantren, mereka menjawab Gontor. Artinya, Gontor dan Indonesia sudah sulit dipisahkan,” kata Romo Syafi'i dalam sambutannya.
Menurut Wamenag, reputasi Gontor telah melampaui batas-batas geografis Indonesia. Pesantren yang berlokasi di Ponorogo, Jawa Timur, ini dinilai telah menjadi ikon pendidikan Islam yang dikenal di berbagai negara.
Ia menekankan bahwa nama besar tersebut harus diikuti dengan kontribusi nyata bagi masyarakat dunia, bukan hanya untuk kepentingan nasional. “Gontor tidak lagi hanya untuk Indonesia, tapi sudah harus mendunia,” ujarnya.
Romo Syafi'i menyoroti bahwa program-program yang dijalankan Gontor selama ini telah melampaui fungsi pendidikan semata. Pesantren tersebut juga aktif dalam dakwah dan pemberdayaan masyarakat, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
“Apa yang saya lihat, program-program di Gontor menjawab kebutuhan yang memang harus hadir di tengah masyarakat,” katanya. Ia menilai hal ini menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan ke tingkat global.
Wamenag juga menyoroti kiprah alumni Gontor yang kini tersebar di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemerintahan, ekonomi, hingga keagamaan. Menurutnya, penyebaran ini menunjukkan peran strategis pesantren dalam membentuk sumber daya manusia Indonesia.
“Ke depan kita berharap Gontor bisa membangun peradaban untuk Indonesia. Dan peradaban itu insya Allah akan mendunia,” kata Romo Syafi'i.
Memasuki usia satu abad, Gontor dinilai menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding era sebelumnya. Pesantren yang telah melewati fase sebelum kemerdekaan hingga era modern ini diminta tidak hanya mempertahankan prestasi lama, tetapi juga adaptif terhadap dinamika global.
Romo Syafi'i menegaskan bahwa hubungan antarnegara yang semakin erat menuntut lembaga pendidikan Islam memiliki perspektif internasional. Ia mengaku telah melihat langkah awal ke arah tersebut di Gontor.
“Saya melihat langkah itu sudah mulai dirintis. Karena itu saya yakin Gontor siap memberikan kontribusi yang lebih luas, bukan hanya untuk Indonesia tetapi juga masyarakat internasional,” ujarnya.