PALEMBANG — Seorang psikolog tidak cukup hanya mendengar kata-kata yang diucapkan klien. Ia juga harus mampu menangkap simbol-simbol komunikasi yang tidak diungkapkan secara verbal, seperti gerakan tangan, ekspresi wajah, hingga bahasa isyarat.
Hal itulah yang mendasari Fakultas Psikologi UIN Raden Fatah Palembang menggelar seminar bertajuk “Komunikasi Tanpa Batas Melalui Bahasa Isyarat”. Acara ini menghadirkan psikolog Melisa Paulina, M.Psi sebagai narasumber dan dipandu moderator Naurah Athaillah.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Psikologi Prof. Dr. Fajri Ismail, M.Pd.I, menegaskan bahwa keterampilan membaca pesan non-verbal merupakan aspek fundamental dalam profesi psikolog. Tidak semua individu mampu menyampaikan perasaannya lewat kata-kata.
“Seorang psikolog perlu memiliki kepekaan dalam memahami ekspresi wajah, gerak tubuh, maupun emosi seseorang. Tidak semua individu mampu menyampaikan perasaannya melalui kata-kata, sehingga kemampuan membaca komunikasi non-verbal menjadi sangat penting,” ujar Prof. Fajri.
Ia menambahkan, kemampuan ini menjadi krusial saat psikolog melakukan asesmen atau pendampingan terhadap klien, terutama mereka yang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi secara verbal.
Melisa Paulina memaparkan materi secara komprehensif. Ia tidak hanya menjelaskan pengertian bahasa isyarat sebagai alat komunikasi efektif bagi penyandang disabilitas pendengaran, tetapi juga mengupas landasan hukum yang mengatur penggunaannya di Indonesia.
“Komunikasi tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata. Banyak pesan yang dapat dipahami melalui ekspresi, gestur, maupun bahasa isyarat yang memiliki makna tersendiri,” jelas Melisa.
Ia juga memperkenalkan latar belakang berdirinya Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO) serta pentingnya memahami budaya Tuli di tengah masyarakat. Menurutnya, pemahaman ini menjadi langkah awal membangun interaksi yang inklusif.
Setelah sesi materi, seminar dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan terkait penerapan komunikasi non-verbal di lingkungan keluarga, pertemanan, dunia pendidikan, hingga media sosial.
Untuk memperkuat pemahaman, narasumber juga menghadirkan sejumlah studi kasus. Contoh-contoh tersebut menggambarkan betapa pentingnya kemampuan menangkap pesan yang tidak disampaikan secara langsung melalui ucapan.
Melalui seminar ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan pemahaman tentang bahasa isyarat. Tujuannya, membangun interaksi yang lebih empatik, inklusif, dan efektif di tengah masyarakat Sumatera Selatan.