SUMATERA SELATAN — Pertandingan yang berlangsung di LA itu nyaris menjadi mimpi buruk bagi Jesse Marsch. Tim asuhannya tampil tanpa gigi selama 90 menit, dengan umpan-umpan yang sering meleset dan tanpa satu pun tembakan tepat sasaran hingga menit ke-89. Publik di stadion sudah bersiap menyaksikan perpanjangan waktu yang melelahkan.
Namun, Stephen Eustáquio muncul sebagai pahlawan. Gelandang Porto itu mencetak gol di menit keenam injury time, memanfaatkan kemelut di depan gawang Bafana Bafana. Gol tersebut bukan sekadar kemenangan — ia mencatatkan sejarah sebagai gol pertama Kanada di fase gugur Piala Dunia putra.
"Kami adalah pahlawan Kanada hari ini, pahlawan untuk anak-anak masa depan negara ini yang memainkan olahraga ini," ujar Marsch dalam pidato di lapangan yang mengingatkan pada gaya Ted Lasso. Pelatih berkebangsaan Amerika Serikat itu juga menyanyikan lagu kebangsaan Kanada dan mencium lambang di dadanya usai laga.
Jika dilihat dari kualitas permainan, laga ini layak disebut sebagai pertandingan paling membosankan di GWC edisi kali ini. Selama 96 menit, kedua tim hanya menghasilkan sedikit peluang. Umpan-umpan panjang yang gagal dan pelanggaran kecil mendominasi jalannya laga. Istilah "anti-football" pun muncul di media sosial untuk menggambarkan pertandingan ini.
Namun, Marsch tak peduli. "Ini adalah kemenangan pertama Kanada di fase gugur. Hasil ini tidak akan pernah bisa dihapus dari sejarah," katanya. Bagi Kanada, yang sebelumnya belum pernah menang di babak sistem gugur, hasil ini adalah lompatan besar.
Kanada kini menunggu pemenang antara Belanda dan Maroko di perempat final. Pertandingan tersebut akan digelar pada Senin malam waktu setempat. Sementara itu, GWC memasuki fase knockout penuh dengan tiga laga besar pada hari yang sama: Brasil vs Jepang, Jerman vs Paraguay, dan laga Belanda vs Maroko.
Jesse Marsch dan skuad Kanada akan kembali berlatih pada Selasa. Mereka sadar, lawan berikutnya akan jauh lebih berat. Tapi untuk malam ini, mereka berhak menikmati momen bersejarah itu.