SUMATERA SELATAN — Mochamad Iriawan menyempatkan diri menyusuri area proyek NGRR Tuban yang berlokasi di Kabupaten Tuban. Dalam kunjungan itu, ia meninjau langsung progres pembangunan dan memastikan setiap tahapan berjalan sesuai target. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa manajemen puncak Pertamina serius mengawal proyek bernilai triliunan rupiah tersebut.
NGRR Tuban bukan proyek biasa. Kilang ini dirancang untuk mengolah minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi seperti bahan bakar minyak (BBM) dan petrokimia. Keberadaannya diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor BBM.
Kawasan kilang ini menjadi salah satu proyek andalan Pertamina dalam program Refinery Development Master Plan (RDMP). Dengan kapasitas yang besar, NGRR Tuban kelak akan memasok kebutuhan energi di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.
Management Walkthrough (MWT) adalah metode pengawasan langsung yang dilakukan oleh jajaran direksi dan komisaris. Alih-alih hanya mendengar laporan di atas kertas, mereka turun ke lapangan untuk melihat realitas di lokasi proyek. Cara ini dinilai efektif untuk menjaring temuan dan masalah yang mungkin tidak terlihat dalam rapat formal.
Dalam kunjungan ke Tuban, Mochamad Iriawan tidak hanya berkeliling. Ia juga berdialog dengan tim proyek dan pekerja di lapangan. Diskusi itu membahas berbagai aspek, mulai dari keselamatan kerja hingga percepatan konstruksi.
Proyek NGRR Tuban memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal. Ribuan tenaga kerja terserap selama masa konstruksi. Selain itu, kehadiran kilang ini akan mendorong tumbuhnya industri pendukung di sekitar Tuban.
Bagi konsumen, pasokan BBM yang lebih stabil dan harga yang lebih kompetitif menjadi harapan utama. Ketika kilang beroperasi penuh, Indonesia bisa menghemat devisa dari impor minyak.
Kunjungan Komisaris Utama Pertamina ini membawa pesan optimisme. Proyek yang sempat tertunda akibat pandemi kini kembali bergerak cepat. Semua mata kini tertuju pada target operasi komersial yang sudah di depan mata.