SUMATERA SELATAN — Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Kroasia. Bagi Luka Modric, laga kontra Portugal kemungkinan besar menjadi penampilan terakhirnya di panggung Piala Dunia. Gelandang berusia 40 tahun itu sebelumnya sudah memberi isyarat bahwa karier internasionalnya mendekati ujung jalan.
“Saya tahu saya telah mencapai fase tertentu dalam karier saya,” ujar Modric dalam pernyataan beberapa waktu lalu.
Piala Dunia 2026 menjadi edisi kelima yang diikuti Modric. Ia tercatat tampil sebagai starter di empat pertandingan Kroasia dan mencatatkan penampilan ke-23 di turnamen ini. Beberapa hari sebelumnya, ia merayakan caps ke-200 bersama Kroasia saat mengalahkan Panama di fase grup. Rekan setimnya sempat mengangkatnya ke udara sebagai bentuk penghormatan.
Begitu peluit panjang berbunyi, Ronaldo langsung menghampiri Modric. Kapten Portugal itu memeluk mantan rekan setimnya yang tampak terpukul. Pelukan itu menjadi simbol persahabatan yang terbangun selama bertahun-tahun di Real Madrid.
Keduanya menjadi pilar utama dalam salah satu era paling sukses Los Blancos. Bersama-sama, mereka memenangkan enam gelar Liga Champions Eropa dan berbagai trofi bergengsi lainnya. Nama mereka dikenang sebagai bagian dari generasi emas Real Madrid.
“Saya bermain dengan Luka selama bertahun-tahun. Usia kami hampir sama. Saya pikir dia adalah legenda sepak bola. Dia tetaplah legenda sepak bola,” tegas Ronaldo seusai pertandingan.
Ronaldo menjadi salah satu orang pertama yang menghibur Modric setelah kekalahan itu. Sikap tersebut mencerminkan rasa hormat yang telah terbangun sejak mereka berbagi ruang ganti di Madrid. Kapten Portugal itu tidak ragu menyebut Modric sebagai legenda yang pencapaiannya akan dikenang sepanjang masa.
Bagi Ronaldo, kemenangan ini menjaga asa Portugal untuk mewujudkan mimpi menjadi juara dunia. Sebaliknya, bagi Modric, kekalahan ini berpotensi menjadi akhir perjalanannya di Piala Dunia. Di balik persaingan sengit selama 90 menit, keduanya menunjukkan rasa hormat yang begitu besar sebagai sesama legenda.