SUMATERA SELATAN — Bermain di bawah bayang-bayang Lionel Messi dkk, Cape Verde justru tampil tanpa rasa gentar. Tim berjuluk Blue Sharks itu memaksa juara bertahan Argentina bekerja ekstra keras hingga 120 menit. Hasil ini sekaligus membuktikan bahwa ekspansi jumlah peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim bukan sekadar wacana, melainkan panggung bagi kejutan-kejutan baru.
Kisah Cape Verde di Piala Dunia 2026 dimulai dari Zona Afrika. Mereka finis sebagai pemuncak Grup D Kualifikasi, mengungguli tim-tim kuat seperti Kamerun, Libya, dan Angola. Tiket ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pun menjadi milik mereka.
Di fase grup, Cape Verde tergabung di Grup H bersama Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi. Di atas kertas, mereka hanyalah tim yang dianggap sebagai pelengkap. Namun, kenyataan berkata lain. Vozinha dan kawan-kawan sukses menahan imbang Spanyol 0-0, Arab Saudi 0-0, dan Uruguay 2-2. Hasil itu membawa mereka lolos sebagai runner-up grup langsung ke babak 32 besar.
Penampilan heroik Cape Verde mendapat pujian dari legenda Timnas Inggris dan Arsenal, Ian Wright. Dalam wawancaranya dengan BBC, Wright menilai ekspansi FIFA telah memberikan angin segar bagi sepak bola global.
"Inilah yang diharapkan orang-orang di dunia ketika lebih banyak kesempatan diberikan FIFA untuk semua negara," ujar Wright. "Ketika ada tim yang punya kesempatan dan naik panggung, mereka bisa membuktikan diri. Tak peduli dari negara besar atau kecil, mereka berjuang untuk membuktikan diri."
"Hari ini, Cape Verde yang merupakan negara kecil menghadapi juara dunia Argentina. Mereka memang kalah, tapi upayanya sangat luar biasa," tutupnya.
Melawan Argentina, Cape Verde tidak sekadar menjadi bulan-bulanan. Mereka memberikan perlawanan sengit, memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Skor akhir 2-3 menjadi bukti betapa tipisnya jarak antara tim debutan dengan raksasa dunia.
Meski harus angkat koper lebih awal, Cape Verde telah menuliskan satu babak baru dalam sejarah sepak bola Afrika. Negara kecil dengan populasi sekitar 500.000 jiwa ini membuktikan bahwa di Piala Dunia, segalanya mungkin terjadi. Kini, dunia menanti kejutan serupa dari negara-negara non-unggulan lainnya di edisi-edisi mendatang.