Erick Thohir Pangkas 191 Aturan Jadi 4 Regulasi, Olahraga Kini Jadi Mesin Ekonomi Nasional untuk Target Pertumbuhan 8 Persen

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Senin, 06 Juli 2026 | 22:38:32 WIB
Erick Thohir merampingkan 191 aturan olahraga menjadi empat regulasi utama untuk percepatan pengembangan industri olahraga.

JAKARTA — Selama puluhan tahun, anggaran olahraga di Indonesia ditempatkan sebagai pos belanja sosial pasif. Olahraga dianggap sebagai beban biaya tanpa imbal hasil finansial yang jelas. Kini, kebijakan baru Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah Erick Thohir membalikkan logika itu secara fundamental.

Dari 191 Aturan Menjadi Empat Pilar Regulasi

Langkah pertama adalah deregulasi besar-besaran. Sebanyak 191 Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) diringkas menjadi hanya empat peraturan utama. Dari empat pilar ini, Kemenpora memasukkan "Industri Olahraga dan Sport Tourism" sebagai payung hukum yang berdiri sendiri.

"Ini adalah dokumen legal yang menjadi fondasi bagi kepastian hukum, penurunan hambatan birokrasi bagi promotor swasta, dan pemecah kebuntuan izin penyelenggaraan ajang olahraga," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari keterangan Kemenpora.

Mengapa Olahraga Bisa Jadi Mesin Ekonomi?

Pergeseran paradigma ini tidak lepas dari target ambisius Presiden Prabowo Subianto. Ia mematok pertumbuhan ekonomi di angka 8 persen. Dalam kalkulasi konvensional, target itu sulit dicapai hanya dengan mengandalkan komoditas alam mentah atau sektor manufaktur tradisional yang bergerak lambat.

Secara global, nilai pasar sport tourism telah menyentuh 625 miliar dolar AS atau sekitar Rp9.800 triliun. Laju pertumbuhannya konstan 8 persen per tahun. Sementara itu, industri olahraga dunia diperkirakan bernilai 521 miliar dolar AS dan diproyeksikan melonjak 25 persen hingga tahun 2032.

Angka-angka ini menjadi justifikasi rasional mengapa olahraga harus diintegrasikan ke dalam strategi pemenuhan target ekonomi nasional.

Ekosistem Liga Domestik: Potensi Besar yang Belum Tergarap

Bagaimana potensi makro ini diterjemahkan ke dalam realitas lokal? Jawabannya ada pada ekosistem liga domestik Indonesia. Selama ini, liga-liga itu berjalan tanpa integrasi bisnis yang matang. Liga sepak bola utama Indonesia mencatatkan perputaran ekonomi di kisaran Rp700 miliar, sementara liga bola basket nasional (IBL) bergerak di angka sekitar Rp60 miliar.

Menurut Kemenpora, angka ini masih bisa diupayakan jauh lebih tinggi. Bayangkan sebuah peluang dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa yang memiliki kegilaan fanatik terhadap olahraga. Masalahnya, liga-liga domestik selama ini dikelola dengan cara pandang turnamen untuk pertumbuhan atlet, bukan sebagai produk hiburan bernilai tinggi.

Ambisi Menghidupkan Sembilan Liga Profesional

Saat ini, hanya sepak bola, bola basket, dan bola voli yang memiliki struktur kompetisi profesional yang sudah bergulir rutin. Enam sektor olahraga potensial lainnya—seperti bulu tangkis, balap motor, hingga cabang atletik—masih terjebak dalam siklus kejuaraan daerah yang sporadis dan sepi sponsor. Kemenpora berambisi menginisiasi dan menghidupkan sembilan liga olahraga profesional.

Jika menengok ke Amerika Serikat, negara itu berhasil mendominasi pendapatan industri olahraga global dengan memperlakukan kompetisi sebagai bisnis sirkular yang disiplin. Liga-liga besar seperti NBA dan Major League Baseball (MLB) tidak bergantung pada hibah pemerintah. Sebagai korporasi raksasa, mereka menyumbang triliunan rupiah bagi perekonomian negara melalui hak siar media global, penjualan merchandise, hak penamaan stadion, serta penyerapan ratusan ribu tenaga kerja di sektor logistik, perhotelan, dan ekonomi kreatif.

Indonesia, menurut Kemenpora, memiliki modal sosial yang jauh lebih militan dalam hal basis massa ketimbang Amerika Serikat. Fanatisme suporter sepak bola atau bola basket di tanah air adalah bahan bakar mentah yang sangat berharga. Masalahnya, bahan bakar ini belum dialirkan ke dalam mesin industri yang tepat.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: sumsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top