PALEMBANG — Wakil Gubernur Sumatera Selatan Cik Ujang mendorong optimalisasi hilirisasi hasil sumber daya alam untuk memperkuat perekonomian daerah. Dalam pernyataannya di Palembang, Jumat, ia menyebut provinsi dengan 17 kabupaten dan kota itu memiliki peluang besar sebagai lumbung pangan dan energi.
"Sumsel berpeluang untuk hilirisasi berbagai hasil SDA," ujarnya.
Sebagai gambaran konkret, melalui kegiatan hilirisasi pada 2025, sebanyak 140 ton kopi dari sejumlah daerah di Sumsel telah diekspor melalui Pelabuhan Boom Baru Palembang. Nilai ekspor tersebut mencapai Rp8,86 miliar.
Cik Ujang menjelaskan bahwa hilirisasi merupakan strategi ekonomi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah. Bahan baku mentah diolah menjadi produk setengah jadi atau barang jadi sebelum dipasarkan. Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan mendorong industrialisasi domestik.
"Dengan mengoptimalkan hilirisasi, potensi SDA yang ada di daerah ini bisa dijual, terutama ke luar negeri dalam bentuk barang jadi yang lebih variatif sehingga memiliki nilai tambah yang lebih besar," kata Cik Ujang.
Wagub menyebut potensi unggulan Sumsel seperti kelapa sawit, batu bara, kopi, dan karet sudah mulai dihilirisasi, namun hasilnya belum optimal. Menurutnya, inovasi pengembangan produk sangat diperlukan agar nilai tambah bisa lebih maksimal.
Program hilirisasi ini tidak bisa berjalan hanya dari jajaran pemprov. Cik Ujang menekankan perlunya dukungan dari pemerintah kabupaten dan kota serta seluruh lapisan masyarakat. "Mengoptimalkan program hilirisasi tidak mungkin bisa dilakukan oleh jajaran pemprov saja, tetapi membutuhkan dukungan dari pemkab dan pemkot serta semua lapisan masyarakat," tegasnya.