SUMATERA SELATAN — Angka stunting di Jawa Tengah memang terus turun, tapi capaian itu belum merata di semua kabupaten dan kota. Ibu muda yang tinggal di daerah dengan prevalensi tinggi perlu tahu kenapa ketimpangan ini terjadi dan apa yang bisa dilakukan sejak seribu hari pertama kehidupan anak.
Pemeriksaan kesehatan calon ibu, pencegahan anemia pada remaja putri, pemenuhan gizi ibu hamil, hingga pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita jadi kunci utama. Semua langkah itu harus berjalan berkelanjutan, bukan hanya saat ada program khusus.
Editorial RRI Semarang menyoroti bahwa percepatan penurunan stunting tidak cukup hanya mengejar angka provinsi. Daerah dengan prevalensi tinggi butuh intervensi lebih terarah, dipetakan penyebabnya secara spesifik hingga tingkat keluarga dan desa.
Setiap daerah punya karakteristik berbeda. Ada yang masalahnya akses pangan bergizi, ada yang soal sanitasi dan air bersih, ada pula yang terkait pola asuh dan pendidikan orang tua.
Kalau program hanya berupa kegiatan rutin tanpa menjawab akar persoalan, hasilnya tidak akan optimal. Pemerintah daerah perlu memastikan setiap program punya ukuran keberhasilan yang jelas.
Daerah dengan prevalensi tinggi harus mendapat intervensi lebih intensif. Sementara daerah yang sudah mencapai angka rendah tetap perlu menjaga capaian agar tidak kembali mengalami kemunduran.
Penguatan intervensi pada seribu hari pertama kehidupan jadi fondasi utama. Posyandu, puskesmas, kader, pemerintah desa, dan keluarga perlu bekerja dalam satu sistem yang terpadu.
Tujuannya satu: menemukan anak yang berisiko stunting sedini mungkin. Setelah terdeteksi, mereka harus mendapat pendampingan dan pemenuhan kebutuhan gizi secara konsisten.
Pencegahan juga harus dimulai sebelum anak lahir. Pemeriksaan kesehatan calon ibu dan pencegahan anemia pada remaja putri sama pentingnya dengan pemantauan tumbuh kembang setelah bayi lahir.
Kemiskinan, keterbatasan akses pangan bergizi, sanitasi dan air bersih, pendidikan orang tua, serta pola asuh turut memengaruhi tumbuh kembang anak. Ini yang sering luput dari perhatian.
Karena itu, penanganannya butuh kolaborasi lintas sektor dengan pembagian peran yang jelas hingga tingkat paling bawah. Dari pemerintah daerah, puskesmas, kader posyandu, sampai keluarga di rumah.
Setiap pihak punya peran. Kader membantu deteksi dini, puskesmas menangani intervensi gizi, pemerintah desa memastikan akses pangan dan sanitasi, sementara keluarga menerapkan pola asuh dan pemberian makan yang tepat.
Pastikan kehamilan dipantau rutin ke puskesmas atau bidan. Penuhi asupan gizi seimbang selama hamil, termasuk tablet tambah darah untuk mencegah anemia.
Setelah bayi lahir, berikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Lanjutkan dengan MPASI bergizi seimbang dan pantau tumbuh kembang anak setiap bulan di posyandu.
Jangan ragu bertanya ke kader atau tenaga kesehatan kalau ada kekhawatiran soal berat badan, tinggi badan, atau perkembangan anak. Deteksi dini selalu lebih baik.
Segera konsultasi kalau berat badan anak tidak naik selama dua bulan berturut-turut, tinggi badan jauh di bawah standar usianya, atau anak sering sakit dan nafsu makan sangat rendah.
Ibu juga perlu waspada jika anak terlambat bicara, sulit fokus, atau terlihat lemas dibanding anak seusianya. Tanda-tanda ini bisa jadi indikasi masalah gizi yang perlu penanganan segera.
Keberhasilan penurunan stunting bukan hanya soal angka provinsi yang semakin rendah. Yang lebih penting adalah ketika kesenjangan antardaerah semakin kecil dan setiap anak punya kesempatan sama untuk tumbuh sehat dan berkembang optimal.