KAYUAGUNG — Konsentrasi partikel debu halus PM2.5 yang pekat menjadi pemicu utama buruknya udara di OKI. Suhu dan kelembaban udara yang mendekati jenuh, ditambah kecepatan angin yang stagnan, memperparah kondisi tersebut sehingga polusi tidak tersebar dan terperangkap di permukiman warga.
Kabid II BPBD OKI, Yudo Siswantoro, mengakui keterbatasan jumlah personel membuat penanganan karhutla berjalan lamban. Menurutnya, kekuatan yang ada saat ini tidak sebanding dengan luas wilayah yang harus diawasi.
"BPBD OKI cuma memiliki 35 personel satgas yang terus dikerahkan untuk menangani kebakaran di berbagai wilayah. Itu tidak bisa meng-cover pemadaman di seluruh OKI," ujarnya.
Selain personel, akses jalan yang sulit dan persediaan air yang kian menipis menambah beban petugas di lapangan. Yudo menyebut timnya tetap turun ke lokasi meski pada Sabtu dan Minggu.
Salah satu kebakaran yang masih dalam penanganan terjadi di kawasan Perumahan Cetak, Kecamatan Kayuagung. Dua tim dikerahkan ke lokasi tersebut untuk mengendalikan api yang disebut masih besar.
"Sekarang api sangat besar, sudah ada dua tim yang turun ke sana. Kami terus maksimal dalam langkah pemadaman, bahkan Sabtu dan Minggu kami masih ke lapangan," kata Yudo.
Karakter lahan gambut menyimpan bara api di bawah tanah meski permukaan sudah dipadamkan. Kondisi itu membuat proses pemadaman butuh waktu lebih lama dan peralatan khusus.
Untuk wilayah yang dekat sumber air, petugas memakai selang dan mesin pompa. Namun, pada lokasi yang jarak api ke sumber air mencapai satu kilometer, dukungan water bombing menjadi keharusan.
"Apalagi sekarang kemarau sudah lama, jarak api dengan sumber air itu sangat jauh, kadang sampai satu kilometer. Yang jauh-jauh itu makanya memakai water bombing, kalau yang dekat kita pakai selang dan mesin sudah bisa," terangnya.
Kawasan yang dinilai cukup berbahaya berada di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran. Kebakaran di sana terjadi di lahan gambut dan lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.
Meski jumlah titik api masih tergolong tinggi, Yudo menyebut kondisi mulai menunjukkan penurunan dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
BPBD OKI memperkirakan hujan baru turun pada akhir Oktober. Intensitas hujan yang akan turun belum bisa dipastikan, sehingga kewaspadaan terhadap karhutla tetap diberlakukan.
"Prediksi hujan turun di akhir Oktober, tapi intensitas hujan yang akan turun belum bisa dipastikan," pungkasnya.