RI Pacu AI dan Semikonduktor demi Kejar Pertumbuhan Vietnam 9%

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Selasa, 06 Oktober 2026 | 14:03:31 WIB
Menteri Airlangga Hartarto menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8% melalui pengembangan digitalisasi, AI, dan semikonduktor.

SUMATERA SELATAN — Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8% lewat pengembangan industri digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), dan semikonduktor. Langkah itu ditempuh untuk mengejar Vietnam yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sampai 9%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Indonesia tak bisa lagi hanya mengandalkan industri pengolahan berbasis sumber daya alam.

Pemerintah menilai industri pengolahan berbasis sumber daya alam tidak lagi cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini berada di kisaran 5%. Karena itu, Indonesia diarahkan masuk ke sektor bernilai tambah lebih tinggi, mulai dari digitalisasi, AI, hingga semikonduktor.

"Kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9%, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI," kata Airlangga dalam acara Big Downstream Insight 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).

Vietnam Lebih Berani Bangun Kawasan Ekonomi Khusus

Airlangga menyoroti skala Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Vietnam yang jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Indonesia memiliki KEK sekitar 24 ribu hektare, sedangkan Vietnam mencapai 2 juta hektare.

"Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani, dan sebetulnya dari segi kepastian usaha mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor," ujarnya.

Selain luas kawasan, kepastian usaha dan pelayanan kepada investor menjadi faktor yang membuat Vietnam lebih dulu bergerak ke industri bernilai tambah tinggi. India juga disebut sudah berada di jalur yang sama.

Dari Pertanian ke Industri Digital: Jalan Menuju Level 3

Airlangga memetakan perjalanan struktur ekonomi dalam tiga tahap. Pertanian sebagai level awal, industri sebagai tahap berikutnya, lalu digitalisasi dan sektor jasa sebagai level yang lebih tinggi.

"Vietnam sudah ke sana. India juga sudah di sana. Maka kita yang belum, naik dari level 2 ke level 3. Kalau itu kita bisa lakukan, maka pertumbuhan 8% itu bisa dicapai," katanya.

AI Sudah Dipakai di Tambang dan Manufaktur

Transformasi berbasis teknologi disebut bukan sekadar rencana. Sejumlah industri dalam negeri telah memakai AI dan otomatisasi untuk menaikkan produktivitas.

Airlangga mencontohkan penerapan AI di PT Vale Indonesia Tbk. Machine learning dipakai di area kerja bertemperatur sangat tinggi di sekitar furnace, lingkungan yang tidak ramah bagi manusia.

"Mereka menggunakan machine learning untuk slack di mana kepatuhannya meningkat dari 89% menjadi 95% dan meningkatkan produksi tambahan 182 ton nikel per tahun. Jadi ini hanya bisa dilakukan oleh AI," ujarnya.

Selain pertambangan, otomatisasi dan teknologi berbasis machine-to-machine learning, Internet of Things (IoT), serta konsep Industri 4.0 mulai masuk ke sektor manufaktur.

Data Center dan Cetak 15.000 Talenta AI

Pemerintah menyiapkan ekosistem pendukung agar transformasi digital tidak berhenti pada pemakaian teknologi, tetapi tumbuh menjadi industri baru di dalam negeri. Salah satunya lewat pengembangan data center.

Indonesia disebut punya keunggulan untuk mengembangkan industri tersebut, terutama dari sisi lahan, listrik, dan air. Pemerintah juga menyiapkan sumber daya manusia untuk menopang industri digital dan semikonduktor.

Airlangga menyebut pemerintah menggandeng perusahaan teknologi asal Inggris, ARM, untuk mendorong pengembangan desain semikonduktor dan chip. Targetnya, 15.000 talenta dengan literasi AI dan semikonduktor bisa dicetak dalam tiga tahun ke depan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi membawa struktur ekonomi Indonesia naik kelas, dari industri berbasis komoditas menuju industri yang lebih berorientasi teknologi dan bernilai tambah tinggi.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top