SUMATERA SELATAN — Pencegahan stunting ternyata tidak cukup dimulai saat bayi lahir, melainkan jauh sebelum kehamilan terjadi. Dokter spesialis kandungan menekankan pentingnya kesehatan remaja putri dan calon pengantin untuk memutus rantai gangguan pertumbuhan anak.
Fakfak, RRI.co.id - Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih holistik. Fokus pada kesehatan ibu hamil saja tidak cukup, karena fondasi pertumbuhan anak sudah terbentuk sejak masa sebelum konsepsi.
Hal ini menjadi sorotan dalam dialog interaktif bertema "Percepatan Penurunan Stunting dan Malnutrisi melalui Sistem Rujukan Faskes" yang digelar di Pro 1 RRI Fakfak. Narasumber dalam acara tersebut adalah dr. Arini Rafiqoh Asri, Sp.OG, yang menjabat sebagai Ketua IDI Cabang Fakfak.
Menurut dr. Arini, periode emas pencegahan stunting sebenarnya dimulai jauh sebelum seorang wanita dinyatakan positif hamil. Masa remaja putri dan persiapan pernikahan menjadi waktu yang krusial untuk membenahi status gizi dan kesehatan secara menyeluruh.
Beberapa kondisi spesifik pada calon ibu dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan pada janin. Anemia, kekurangan energi kronis (KEK), berat badan lahir rendah (BBLR), hingga penyakit kronis adalah beberapa faktor yang perlu diwaspadai.
"Pencegahan stunting dimulai dari kesehatan remaja putri, calon pengantin, perencanaan kehamilan, kemudian dilanjutkan dengan pelayanan antenatal yang berkualitas," jelas dr. Arini dalam dialog tersebut.
Pemeriksaan kesehatan pranikah sering dianggap sebagai syarat administratif belaka. Padahal, momen ini adalah kesempatan emas untuk mendeteksi dini berbagai risiko yang mungkin mengintai kehamilan.
Skrining yang komprehensif dapat mendeteksi anemia, masalah status gizi, obesitas, hipertensi, diabetes, hingga infeksi tertentu. Jika ditemukan kondisi seperti ini, intervensi bisa dilakukan lebih awal sebelum kehamilan terjadi.
Dengan kondisi tubuh ibu yang lebih optimal, berbagai komplikasi kehamilan dapat ditekan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pencegahan stunting yang dimulai dari hulu, bukan sekadar pengobatan di hilir.
Selain faktor gizi, usia saat hamil juga memegang peranan penting. Kehamilan pada usia yang terlalu muda memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan pertumbuhan janin.
Organ reproduksi remaja yang belum sepenuhnya matang ditambah dengan kebutuhan gizi yang bersaing antara ibu dan janin dapat memperburuk kondisi. Oleh karena itu, edukasi kesehatan reproduksi sejak dini menjadi kunci.
Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga memerlukan kesadaran masyarakat. Memastikan calon ibu memiliki status kesehatan yang baik adalah investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia.
"Anak yang sehat dimulai dari ibu yang sehat bahkan sebelum kehamilan terjadi," tegas dr. Arini.
Dengan memahami pentingnya kesehatan pra-kehamilan, para calon ibu dapat lebih proaktif dalam mempersiapkan diri. Langkah kecil ini memberikan dampak besar bagi tumbuh kembang anak di masa depan.