PALEMBANG — Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Palembang dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini membuat udara tidak nyaman dihirup sekaligus menghalangi pandangan pengendara di jalan.
Ketika jarak pandang berkurang, pengendara punya waktu lebih sedikit untuk mengenali bahaya dan menghindari kecelakaan. Pengendara bisa terlambat melihat kendaraan di depan, lubang jalan, hingga orang yang hendak menyeberang.
Asap tidak hanya mengganggu pernapasan. Lapisan kabut yang menebal di permukaan jalan memangkas kemampuan mata menangkap objek bergerak, terutama kendaraan yang melaju dari arah berlawanan.
Pengendara sepeda motor maupun mobil sebaiknya tidak menganggap remeh kondisi ini. Apalagi jika jarak pandang sudah mulai terbatas.
Saat jalan mulai tertutup asap, kurangi kecepatan. Dengan begitu, pengendara memiliki waktu lebih banyak untuk mengantisipasi kondisi jalan di depan.
Kecepatan rendah memberi ruang bagi pengendara untuk mengerem lebih awal ketika ada hambatan mendadak. Jarak aman dengan kendaraan di depan juga perlu ditambah dari biasanya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perjalanan tidak berujung petaka saat kabut asap menebal:
Kombinasi kecepatan rendah, jarak aman yang cukup, dan lampu kendaraan yang menyala menjadi cara paling sederhana untuk menekan risiko kecelakaan di tengah kabut asap.
Kabut asap karhutla disebut kembali menyelimuti Palembang dan sekitarnya, sehingga warga yang masih harus beraktivitas di luar rumah dengan berkendara perlu meningkatkan kewaspadaan.
Berkendara saat asap menebal memang membutuhkan perhatian lebih. Pengendara yang tetap tenang dan menyesuaikan kecepatan punya peluang lebih besar melewati jalan dengan aman.