SUMATERA SELATAN — Banyak ibu masih mengikuti cara pengasuhan warisan ibu atau nenek sendiri, padahal kebutuhan tiap anak belum tentu sama. Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim mengingatkan orang tua agar tidak menerapkan kebiasaan turun-temurun begitu saja, melainkan menyesuaikannya dengan bukti ilmiah dan tahap tumbuh kembang anak.
Pengetahuan soal tumbuh kembang anak terus berkembang dari waktu ke waktu. Pengalaman mengasuh dari generasi sebelumnya tetap berguna sebagai bahan pertimbangan, tetapi tidak bisa dipakai mentah-mentah untuk semua anak.
Rose Mini Agoes Salim menekankan pentingnya orang tua memilah mana kebiasaan lama yang masih relevan dan mana yang perlu ditinggalkan. Salah satu contoh yang ia soroti adalah pemberian telur mentah atau makanan padat kepada bayi yang belum siap menerimanya.
Setiap anak punya kondisi, kebutuhan, dan tahap perkembangan yang berbeda. Pola asuh yang berhasil untuk satu anak belum tentu aman untuk anak lain, bahkan di keluarga yang sama.
"Jadi kita harusnya menggunakan cara yang terbaik untuk anak berdasarkan apa penelitian, fakta dan sebagainya. Jangan yang dibawa turun-temurun, karena untuk satu orang belum tentu cocok untuk anak yang lain," kata Rose ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa (13/10), dilansir dari Antara.
Ia menegaskan, tidak ada teori pengasuhan yang bisa langsung diterapkan persis sama ke setiap keluarga. Pendekatan yang dipakai perlu dimodifikasi sesuai kondisi anak.
Rose menyoroti praktik memberi telur mentah atau makanan padat sebelum bayi siap. Kebiasaan ini bisa menimbulkan risiko kesehatan jika tidak sesuai usia dan kesiapan bayi.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi dan anak. Alasannya, ada risiko keamanan pangan, termasuk kemungkinan kontaminasi bakteri Salmonella.
Perhatian soal keamanan pemberian makanan ini muncul setelah pemberitaan mengenai bayi di Surabaya yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya.
Langkah pertama adalah memahami tahapan perkembangan anak, termasuk kesiapan menerima makanan padat. Jika ibu ragu soal pemberian makanan atau pemenuhan nutrisi bayi, konsultasi dengan dokter anak atau pakar gizi jadi pilihan paling aman.
Pengalaman orang tua dan kakek-nenek tetap bisa dijadikan bahan pertimbangan. Bedanya, pengalaman itu perlu dipadukan dengan informasi kesehatan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar diikuti karena sudah menjadi kebiasaan keluarga.
Rose menambahkan, penyesuaian diperlukan agar pendekatan yang dipakai benar-benar sesuai dengan kondisi anak, bukan sekadar mengikuti tradisi.
Segera tanyakan ke dokter anak atau ahli gizi jika bayi belum menunjukkan tanda siap makan padat, mengalami reaksi setelah makan makanan tertentu, atau ibu ragu soal jenis dan tekstur makanan yang aman.
Untuk kebutuhan nutrisi harian, pastikan pemberian makanan mengikuti usia dan tahap perkembangan anak. Jangan memberi makanan yang berisiko seperti telur mentah hanya karena dulu pernah diberikan di keluarga.
Pengalaman keluarga tetap berharga, tetapi keputusan soal pengasuhan sebaiknya berpijak pada kebutuhan anak saat ini. Dengan memadukan pengalaman dan bukti ilmiah, ibu bisa memilih cara yang paling aman dan tepat untuk si kecil.