EMPAT LAWANG — Gerakan ini bukan sekadar seremonial tanam padi biasa. Kepala Bidang Perekonomian, SDA Bappeda Kabupaten Empat Lawang, Nande Novalia, menegaskan Gertam dirancang sebagai langkah taktis terintegrasi untuk menjaga stok pangan daerah.
“Gertam difokuskan untuk mengantisipasi dampak El Nino serta menjaga ketahanan pangan daerah agar pasokan beras kita tetap stabil,” ujar Nande dalam keterangannya, Senin lalu.
Wilayah ini dinilai memiliki potensi lahan persawahan yang subur dan menjadi andalan produksi padi di Empat Lawang. Dengan memulai tanam serentak, pemerintah berharap petani bisa memanen sebelum kekeringan ekstrem mengganggu siklus air.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Empat Lawang, Noverman, menambahkan bahwa sinergi di lapangan menjadi faktor penentu. Pemerintah berkomitmen mengawal jalannya Gertam agar produktivitas lahan tetap optimal meski cuaca tidak menentu.
Program ini melibatkan Bappeda, Dinas Ketahanan Pangan, dan kelompok tani setempat. Target utamanya: mempercepat masa tanam agar petani tidak kehilangan momen akibat kemarau panjang yang diprediksi bakal lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya.
Langkah ini menjadi krusial mengingat fenomena El Nino kerap memicu kekeringan berkepanjangan dan mengganggu jadwal panen tradisional di Sumatera Selatan. Jika tidak diantisipasi, produksi beras lokal bisa anjlok dan memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.
Melalui gerakan tanam massal ini, Kabupaten Empat Lawang optimistis dapat melewati tantangan iklim global tahun ini. Pemerintah daerah juga ingin memperkuat posisi wilayahnya sebagai salah satu lumbung pangan lokal yang mandiri di Sumatera Selatan.
Para petani di Tebing Tinggi pun diharapkan bisa memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan produktivitas. Dengan kolaborasi yang solid, ancaman El Nino bukan lagi momok yang menakutkan, melainkan tantangan yang bisa dihadapi dengan strategi tepat.