PALEMBANG — Semangat massa terus membuncah saat orasi bergiliran disampaikan di atas mobil komando. Satu per satu tuntutan dibacakan, disambut pekikan yel-yel dan kibaran bendera bertuliskan "Tolak Indonesia Gelap" yang mencolok di tengah lautan almamater.
Dalam aksi yang berlangsung sejak siang hari itu, mahasiswa menyampaikan delapan poin utama. Tuntutan tersebut tidak hanya menyasar pemerintah pusat, tetapi juga mengkritik kinerja DPRD Sumsel sebagai wakil rakyat di daerah.
Koordinator BEM Nusantara Sumsel, Ilham, dalam orasinya menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab menjadi penyambung suara masyarakat. Menurutnya, aksi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk perlawanan ketika berbagai persoalan dinilai belum mendapatkan solusi memadai.
"Kami hadir untuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Mahasiswa harus tetap menjadi pengawal kebijakan publik dan mengingatkan pemerintah ketika ada kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat," ujarnya di hadapan peserta aksi.
Ilham juga mengingatkan seluruh peserta untuk menjaga ketertiban dan tidak terpancing provokasi. Ia secara khusus meminta solidaritas antarpeserta, termasuk memberikan perhatian kepada mahasiswa perempuan yang ikut dalam demonstrasi.
Semangat massa semakin menguat saat Ilham menegaskan komitmen untuk terus mengawal setiap tuntutan hingga mendapat respons nyata dari pemerintah dan lembaga terkait. "Selama tuntutan belum didengar, kami akan terus mengawal dan menyuarakannya," tegasnya yang langsung disambut gemuruh sorakan peserta.
Sepanjang aksi, aparat kepolisian bersiaga di titik-titik strategis untuk mengatur lalu lintas dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Proses penyampaian aspirasi berlangsung tertib hingga massa perlahan membubarkan diri menjelang sore hari.