Keputusan Microsoft mengubur Project Blackbird menuai penyesalan dari kalangan pengamat industri. Dalam video terbaru di kanal YouTube-nya, Jason Schreier mengungkapkan bahwa ia hanya mendengar tanggapan positif tentang game tersebut dari berbagai sumber internal.
"Saya hanya mendengar hal-hal baik tentang game itu. Benar-benar disayangkan proyek ini dibatalkan," ujar Schreier. Ia menambahkan bahwa Xbox sebenarnya sangat membutuhkan judul semacam itu untuk mengisi celah pasar yang ditinggalkan oleh Destiny yang kini sudah mati.
Project Blackbird bukan proyek kecil. Game ini telah menghabiskan waktu pengembangan yang panjang, melibatkan tim veteran ZeniMax, dan disebut memiliki skala produksi yang sangat mahal. Namun, beban biaya itulah yang justru menjadi bumerang.
Matt Firor, mantan direktur The Elder Scrolls Online, secara blak-blakan menjelaskan alasan pembatalan tersebut. "Kami hanyalah angka di buku besar. Jika angka itu besar, ia akan selalu menjadi sasaran analisis," katanya dalam sebuah wawancara. Firor mengaku tidak setuju dengan keputusan itu, tapi memahami logika di baliknya: murni finansial.
Dalam beberapa tahun terakhir, Microsoft memang semakin agresif memangkas biaya dan memprioritaskan profitabilitas. Gelombang PHK besar-besaran di tahun 2025 menjadi salah satu korbannya, dan Project Blackbird menjadi salah satu proyek yang tumbang dalam restrukturisasi itu.
Kritik terhadap strategi Xbox justru datang dari ekosistemnya sendiri. Thomas Mahler, CEO Moon Studios yang menggarap dua game Ori untuk Xbox, menilai perusahaan terlalu bergantung pada warisan IP lama.
"Xbox telah lama berjuang untuk mengidentifikasi, memberdayakan, dan melindungi para kreator serta tim kunci yang bisa menjaga merek ini tetap di puncak," tulis Mahler dalam unggahan daringnya. Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi divisi gaming Microsoft yang kini hanya mengandalkan Gears of War: E-Day dari The Coalition dan Clockwork Revolution dari InXile Entertainment sebagai andalan berikutnya.
Tanpa Project Blackbird, Xbox kehilangan satu-satunya kandidat kuat untuk melahirkan franchise baru yang segar. Padahal, di saat para pesaing seperti Sony terus memproduksi blockbuster orisinal, keberanian mengambil risiko pada proyek besar seperti Blackbird justru bisa menjadi pembeda. Sayangnya, angka di buku besar berbicara lebih keras daripada potensi masa depan.