SUMATERA SELATAN — Jean-Baptiste Kempf, pengembang utama VLC Media Player, yakin bahwa robot dan drone akan menjadi pemandangan umum di jalanan dalam beberapa tahun ke depan. Keyakinan ini mendorongnya membangun Kyber, sebuah platform yang menyinkronkan video, audio, data sensor, dan perintah kontrol dengan latensi minimal.
Kyber pada dasarnya adalah SDK (Software Development Kit) yang dirancang untuk mengendalikan perangkat jarak jauh secara real-time. Nama Kyber sendiri terinspirasi dari kristal lightsaber di film Star Wars, yang melambangkan kecepatan.
"Jika Anda mengendalikan sesuatu di dunia nyata, setiap milidetik sangat berarti," ujar Kempf kepada TechCrunch. Platform ini dibangun untuk semua skenario di mana operator, komputasi, dan aksi berada di lokasi yang berbeda.
Pendekatan Kyber untuk menghilangkan lag berakar pada teknologi streaming video. Proyek ini berawal dari proyek sampingan Kempf saat menjabat sebagai CTO di Shadow, perusahaan cloud gaming. Namun, keahlian di bidang IoT (Internet of Things) juga sama pentingnya untuk mengoptimalkan kinerja sesuai daya komputasi perangkat.
Kempf mengakui bahwa perusahaan lain dengan sumber daya besar sudah membangun perangkat lunak serupa untuk kebutuhan mereka sendiri, misalnya untuk kendaraan jarak jauh. Namun, ia menyoroti masalah skala. "Armada terbesar saat ini mungkin memiliki 2.000 atau 3.000 kendaraan. Bayangkan jika Anda harus mengelola jutaan kendaraan; itu masalah yang berbeda," jelasnya.
Lonjakan skala ini juga meningkatkan urgensi pada observabilitas—memastikan sistem benar-benar berfungsi. Ini akan menjadi krusial ketika agen AI, bukan manusia, yang mengelola seluruh armada dan jaringan. Manfaat lain yang lebih sederhana adalah kemampuan untuk memperbarui perangkat lunak tanpa harus menyentuh setiap perangkat secara fisik.
Kyber mengadopsi model bisnis ganda. Proyek inti tetap bersifat open source, setia pada akar Kempf sebagai legenda open source. Sementara itu, perusahaan menjual versi produk yang sudah matang (productized version) kepada pelanggan enterprise.
Tidak hanya perangkat lunak, Kyber juga menawarkan layanan hands-on melalui tim forward-deployed engineers (FDE). Tim ini akan membantu implementasi dan penyesuaian khusus untuk setiap klien, mirip dengan model yang diterapkan Palantir. Saat ini, Kyber memiliki 25 staf penuh waktu yang tersebar di kantor pusat Paris serta kantor di San Francisco dan Singapura.
Untuk memfokuskan upaya, Kyber memprioritaskan tiga segmen: robotika, drone segala jenis, dan akses IT jarak jauh. Permintaan untuk segmen terakhir ini terbilang sangat kuat. Kempf bahkan bercita-cita menjadikan Kyber lebih dari sekadar penantang Citrix, yang menunjukkan besarnya potensi pasar yang dibidik.
"Perusahaan yang mencoba memecahkan masalah ini menghabiskan waktu bertahun-tahun dan puluhan juta dolar untuk membangun solusi khusus yang tidak akan pernah mereka bagikan," tulis Kyber di halaman karirnya. "Kami membangun versi yang bisa digunakan semua orang."
Perusahaan mengklaim saat ini sudah dalam tahap implementasi komersial dengan pelanggan di sektor pertahanan, telekomunikasi, robotika, dan kecerdasan buatan (AI).