PALEMBANG — Eceng gondok yang kerap menjadi masalah di perairan Sumatera Selatan kini berubah menjadi peluang ekonomi. Lewat program Eceng Gondok Research and Creative Center (ERCC) yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju bersama kelompok Ankubas sejak 2023, limbah tanaman air itu disulap menjadi pengharum ruangan bernama Ankubas Scents.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyebut program ini mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Inilah wujud komitmen Pertamina Patra Niaga untuk tumbuh bersama masyarakat dan menciptakan dampak yang berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin lalu.
Pengharum ruangan berbasis eceng gondok itu tidak hanya dijual di jaringan usaha lokal. Produk Ankubas Scents juga dipasarkan melalui platform digital dan mitra pencucian mobil di Sumatera Selatan. Hingga 2025, omzet penjualan telah mencapai Rp50 juta dengan jangkauan pasar mencakup Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Lahat.
Pendekatan riset dan inovasi menjadi kunci keberhasilan program ini. Melalui ERCC, kelompok Ankubas tidak sekadar mengolah eceng gondok secara tradisional, tetapi mengembangkan produk yang memiliki nilai jual dan daya saing di pasar modern.
Di Jawa Tengah, Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Sumarmo menjalankan program Ecobiz Cengklik sejak 2022 di Desa Sobokerto, Boyolali. Program ini mengubah eceng gondok menjadi pupuk organik, pakan ternak, pakan ikan, dan biogas.
Selain itu, Ecobiz Cengklik juga mendukung pertanian berkelanjutan dengan membangun sumur submersible tenaga surya untuk irigasi serta inovasi BERSIH (Bak Pencuci Sayur Higienis). Hingga saat ini, program telah memberikan manfaat kepada 88 penerima manfaat langsung dan membentuk satu kelompok tani baru.
Salah satu penggerak program Ecobiz Cengklik, Khoirul Huda, mengatakan saat ini semakin sedikit masyarakat yang memilih menjadi petani. "Saya bersama teman-teman ingin bahwa petani bisa sejahtera dan menjadi petani adalah pilihan," ujarnya.
Roberth menambahkan bahwa keberhasilan kedua program ini selaras dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Menurutnya, inovasi sosial berbasis pemberdayaan masyarakat dapat menciptakan dampak yang berkelanjutan. "Melalui ERCC dan Ecobiz Cengklik, kami melihat bagaimana masyarakat mampu menjadi aktor utama dalam menciptakan perubahan," katanya.
Program-program ini membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan dapat berjalan beriringan. Di Sumsel, eceng gondok yang sebelumnya dianggap gulma kini menjadi sumber penghasilan baru bagi warga yang mengelolanya.