Kapolda Sumsel Pimpin Pencucian Pataka Atidhira Wira Bhakti Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Simbol Pengabdian Dua Kali Raih Nugraha Sakanti

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 23:08:57 WIB
Kapolda Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugrojo memimpin pencucian Pataka Atidhira Wira Bhakti di Gedung Presisi, Palembang.

PALEMBANG — Ratusan personel Polda Sumatera Selatan mengheningkan cipta saat Pataka Atidhira Wira Bhakti memasuki Aula Lantai 7 Gedung Presisi, Kamis (25/6/2026). Bendera pusaka berwarna dasar biru dengan lambang Tribrata itu disambut penghormatan militer sebelum prosesi pencucian dimulai.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugrojo memimpin langsung upacara yang berlangsung sekitar satu jam. Dengan menggunakan air bunga dan daun pandan, ia membasuh seluruh permukaan pataka. Ritual diakhiri penyemprotan minyak wangi sebagai simbol penyucian nilai dan pembaruan tekad pengabdian.

Mengapa Pataka Ini Istimewa bagi Polda Sumsel?

Pataka Atidhira Wira Bhakti bukan sekadar lambang organisasi. Disahkan melalui Surat Keputusan Kapolri Nomor Pol. SKEP/1123/IX/1996 pada 20 September 1996, sasanti ini mengandung makna keteguhan hati, jiwa keperwiraan, serta pengabdian penuh tanggung jawab demi menegakkan kebenaran dan keadilan.

Keistimewaan lain: Polda Sumsel menjadi salah satu dari sedikit satuan kewilayahan Polri yang dua kali menerima Nugraha Sakanti. Penghargaan pertama diraih pada 1973, dan kembali diperoleh pada 2025 atas dedikasi dan keberhasilan dalam menjalankan tugas kepolisian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Prosesi: Dari Penghormatan hingga Penyemayaman Kembali

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembacaan Hymne Polri. Seluruh peserta yang terdiri dari pejabat utama Polda Sumsel dan perwakilan satuan kerja mengikuti setiap tahapan dengan khidmat.

Kapolda kemudian melakukan pencucian pataka menggunakan air bunga dan daun pandan yang telah disiapkan dalam wadah tradisional. Setelah penyemprotan minyak wangi, pataka kembali disemayamkan di tempat semula dengan penghormatan terakhir.

"Prosesi ini menjadi momentum untuk memperbarui komitmen pengabdian seluruh personel. Nilai-nilai Tribrata harus hidup dalam setiap tindakan anggota Polri sehingga kehadiran Polri benar-benar memberikan rasa aman, keadilan, dan pelayanan terbaik bagi masyarakat," ujar Kapolda Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho.

Apa Makna di Balik Tradisi Tahunan Ini?

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menegaskan bahwa tradisi pemuliaan nilai Tribrata bukan sekadar seremoni. Menurutnya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap insan Bhayangkara memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan institusi.

"Tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap insan Bhayangkara memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan institusi serta terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat," ungkap Kombes Pol Nandang.

Melalui upacara ini, Polda Sumatera Selatan menegaskan komitmennya menghadirkan Polri yang Presisi, profesional, humanis, dan semakin dipercaya masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta penegakan hukum di Bumi Sriwijaya.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: mediapolri.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top