SUMATERA SELATAN — Kepastian Qatar tersingkir dari Piala Dunia 2026 tak terhindarkan. Finis di dasar klasemen Grup B, skuad asuhan Julen Lopetegui hanya mampu menahan imbang Swiss 1-1, sebelum dihajar Kanada 0-6 dan dikalahkan Bosnia 1-3.
Hasil minor kontra Bosnia menjadi penutup pahit perjalanan Qatar di Amerika Utara. Meski demikian, Lopetegui menilai timnya sudah tampil maksimal dan menciptakan banyak peluang. “Kami melakukan dua kesalahan yang dimanfaatkan lawan. Namun, kami juga punya banyak peluang—kadang sepakbola tidak memberi imbalan yang pantas,” ujarnya dilansir dari ESPN.
Lopetegui menegaskan skuadnya menunjukkan perlawanan sengit di setiap pertandingan. Ia menilai kekalahan ini lebih karena faktor keberuntungan yang tidak memihak, bukan karena inferioritas kualitas.
“Kami banyak melakukan hal dengan benar. Inilah sepakbola di level tertinggi, kami bangga dengan perjuangan para pemain,” tambah mantan pelatih Real Madrid itu. Keyakinan ini menjadi modal bagi Qatar untuk terus berkembang, alih-alih larut dalam kekecewaan.
Piala Dunia 2026 menjadi edisi kedua bagi Qatar setelah tampil sebagai tuan rumah pada 2022. Dengan kontrak Lopetegui yang masih berlaku hingga musim panas 2027, proyek jangka panjang pembinaan pemain muda terus berjalan.
“Kami perlu meningkatkan diri. Pengalaman ini membantu para pemain muda belajar dan berkembang, karena Anda tidak pernah tahu apakah bisa main di Piala Dunia lagi atau tidak,” papar Lopetegui. “Kami berharap ini bukan Piala Dunia terakhir kami,” pungkasnya.