MUARA ENIM — Dua titik perlintasan sebidang di Muara Enim yang selama ini menjadi langganan kemacetan dan rawan kecelakaan bakal segera berubah. KAI dan empat pemangku kepentingan lainnya meneken Perjanjian Kerja Sama (PKS) pembangunan dua jalan layang di Balai Serasan Sekundang, Muara Enim, Senin (6/7).
Direktur Manajemen Portofolio dan Teknologi Informasi PT KAI, I Gede Darmayusa, menjelaskan dua lokasi yang akan dibangun jalan layang adalah JPL 99 Belimbing Pendopo dan JPL 111 Ujan Mas. Kedua titik ini merupakan pertemuan langsung antara rel kereta api dan arus kendaraan umum.
"Keberadaan jalan layang akan memperlancar arus kendaraan masyarakat, mengurangi kemacetan di perlintasan sebidang, serta mendukung peningkatan kapasitas angkutan batu bara," kata Darmayusa dalam keterangan yang diterima di Palembang, Selasa.
Proyek ini tidak hanya soal keselamatan, tetapi juga menyangkut kelancaran distribusi komoditas strategis nasional. Muara Enim dikenal sebagai salah satu lumbung batu bara Sumatera Selatan, dan angkutan kereta api menjadi tulang punggung logistiknya.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengapresiasi kolaborasi ini. Menurutnya, jalan layang menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat yang selama ini terjebak macet setiap kali kereta batu bara melintas.
"Pembangunan ini adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat. Yang kita integrasikan bukan hanya kepentingan komersial, tetapi juga kepentingan masyarakat dan pemerintah. Ketika logistik bergerak lebih cepat, ekonomi juga akan tumbuh," ujar Deru.
Manajer Humas PT KAI Divre III Palembang Aida Suryanti menambahkan, pemisahan jalur kereta dan jalan raya akan menekan potensi kecelakaan di perlintasan sebidang. Selain itu, waktu tempuh pengguna jalan diperkirakan lebih singkat dan operasional kereta api bisa lebih tepat waktu.
"Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PT KAI, PT Bukit Asam, dan seluruh pihak terkait, pembangunan dua jalan layang ini diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi kelancaran operasional kereta api, distribusi logistik nasional, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat," kata Aida.
Belum disebutkan secara rinci nilai investasi dan target waktu penyelesaian proyek ini. Namun, dengan melibatkan BBPJN Sumsel dan PT Bukit Asam sebagai mitra strategis, pengerjaan dipastikan akan berjalan terintegrasi.