SUMATERA SELATAN — Laga yang berlangsung di Stadion SoFi, Inglewood, itu menjadi panggung Charles De Ketelaere. Gelandang AC Milan tersebut mencetak dua gol pada babak pertama sebelum Hans Vanaken dan Romelu Lukaku memastikan kemenangan di paruh kedua.
Perjalanan Belgia di Piala Dunia 2026 nyaris berakhir sebelum benar-benar dimulai. Dua laga awal Grup G hanya berakhir imbang: 1-1 melawan Mesir dan 0-0 kontra Iran. Situasi kian genting setelah Nathan Ngoy diusir wasit saat melawan Iran.
Kebangkitan baru datang di laga pamungkas grup. Belgia menghancurkan Selandia Baru 5-1. Leandro Trossard mencetak dwigol, sementara Kevin De Bruyne dan Lukaku ikut menyumbang angka. Hasil itu mengantar mereka ke babak 32 besar sebagai juara grup berkat keunggulan selisih gol.
Romelu Lukaku menjadi katalisator kebangkitan Belgia. Meski lebih sering memulai laga dari bangku cadangan, efektivitasnya di depan gawang lawan tak terbantahkan. Dalam tiga pertandingan terakhir, Belgia mengoleksi 12 gol — dan Lukaku selalu terlibat di momen krusial.
Saat tertinggal dari Senegal di babak 32 besar, Lukaku yang membuka harapan. Youri Tielemans kemudian memaksakan perpanjangan waktu dan mencetak gol penalti penentu kemenangan 3-2. "Dia punya naluri pembunuh di kotak penalti. Itu yang kami butuhkan saat pertandingan ketat," ujar Rudi Garcia, pelatih Belgia.
Perempat final mempertemukan Belgia dengan Spanyol, Sabtu (11/7/2026) pukul 02.00 WIB. Ini adalah edisi ketiga Belgia menembus delapan besar Piala Dunia dalam 12 tahun terakhir. Mereka punya kenangan manis: pada 1986, Belgia menyingkirkan Spanyol lewat adu penalti di babak yang sama.
Tantangan kali ini lebih berat. Spanyol belum sekalipun kebobolan sepanjang enam pertandingan di turnamen ini. Namun, Belgia datang dengan kepercayaan diri tinggi. Lini depan mereka terus meningkat, terutama saat Lukaku berada di lapangan. Produktivitas gol yang menggila di fase gugur menjadi senjata paling ampuh untuk meruntuhkan pertahanan kokoh La Furia Roja.