PALEMBANG — Ribuan warga diprediksi akan memadati kawasan Jembatan Ampera dan Bundaran Air Mancur pada Minggu (19/7) mendatang. Pemkot Palembang memastikan dua agenda besar akan berlangsung serempak di dua lokasi ikonik tersebut, menggabungkan unsur budaya dan religi dalam satu waktu.
Jembatan Ampera akan berubah menjadi panggung raksasa busana tradisional. Ratusan peserta dijadwalkan mengenakan kebaya dan kain songket menyusuri jembatan sepanjang 1.117 meter tersebut. Pemkot menargetkan agenda ini memecahkan Rekor MURI Dunia untuk parade kebaya dengan peserta terbanyak.
"Parade berkebaya dan berkain songket di sepanjang Jembatan Ampera untuk memecahkan Rekor MURI Dunia ini menjadi bukti semangat kita dalam membudayakan kebaya dan kain songket di Sumatera Selatan," kata Asisten I Setda Kota Palembang Sulaiman Amin dalam rapat koordinasi, Selasa.
Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Kebaya Nasional 2026. Pemkot menggandeng komunitas pecinta kebaya dan perajin songket lokal untuk memeriahkan acara.
Sementara di sisi lain kawasan BAM yang berada tepat di depan Masjid Agung Palembang, lantunan doa dan zikir akan menggema. Acara religi ini dimulai lebih awal, tepat pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB.
Rangkaian kegiatan meliputi Khataman Al-Qur'an, zikir bersama, selawat, serta tausiah dari para ulama. Pemkot sengaja menjadwalkan kedua acara di waktu yang sama agar pesan budaya dan religi dapat berjalan beriringan secara tertib dan toleran.
Ulama Palembang Habib Ghasim Alkaf menegaskan bahwa zikir akbar kali ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga bentuk edukasi publik. Menurutnya, langkah pembatasan dan edukasi ini mendesak demi melindungi moral generasi muda.
"Kita berdoa supaya negeri kita diselamatkan Allah dari LGBT. Kami juga mendorong pemerintah untuk mengeluarkan Perda tentang larangan perbuatan menyimpang tersebut," kata Habib Ghasim.
Pemkot Palembang bersama tokoh masyarakat dan ulama sepakat mengusung isu ini sebagai agenda prioritas. Mereka menilai Palembang perlu dijaga dari dampak sosial yang dinilai buruk, salah satunya melalui pendekatan religi dan budaya.
Dengan mengumpulkan massa dalam jumlah besar di dua titik strategis, Pemkot telah berkoordinasi dengan aparat keamanan. Penentuan jadwal menjadi kunci utama agar kedua acara tidak saling mengganggu dan tetap kondusif.
"Penentuan jadwal ini menjadi kunci utama karena kedua acara tersebut akan mengumpulkan massa dalam jumlah besar di area ikonik Palembang," ujar Sulaiman Amin.
Belum ada pengumuman resmi terkait rekayasa lalu lintas di sekitar Jembatan Ampera dan BAM. Pemkot dijadwalkan merilis detail pengaturan arus kendaraan dalam waktu dekat.