JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Pada perdagangan hari ini, Selasa (15/4/2025), nilai tukar mata uang Garuda dibuka di level Rp18.070 per dolar AS, turun signifikan dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp18.009 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar soal transisi kepemimpinan di Bank Indonesia.
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan bahwa pergerakan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor domestik, khususnya antisipasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan BI yang baru. Hal ini menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp18 ribu-Rp18.050 per dolar AS dipengaruhi oleh faktor domestik sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan BI di bawah Gubernur yang baru,” ujar Rully kepada ANTARA di Jakarta.
Pasca pengunduran diri Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, telah ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI. Tahapan administrasi selanjutnya adalah penerbitan Keputusan Presiden (Keppres) terkait pemberhentian hormat Perry Warjiyo.
Setelah itu, Presiden akan mengajukan satu nama calon Gubernur BI definitif kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Calon tersebut kemudian akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR sebelum akhirnya disetujui dan dilantik oleh Presiden.
Rully Nova menekankan bahwa Gubernur BI yang baru harus segera memprioritaskan penguatan kelembagaan, terutama dalam kebijakan operasional moneter. Menurutnya, kebijakan ini sangat mempengaruhi jumlah uang beredar dan ekspektasi inflasi di masyarakat.
“Gubernur BI yang baru perlu memprioritaskan penguatan kelembagaan/institusi, terutama kebijakan operasional moneter yang mempengaruhi jumlah uang beredar dan ekspektasi inflasi, di mana seharusnya BI tidak secara langsung membeli obligasi pemerintah di pasar perdana,” ungkap Rully.
Menariknya, sentimen dari luar negeri justru terbilang positif. Indeks dolar AS bergerak stabil dan harga minyak dunia turun setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran mereda. Presiden AS Donald Trump menginstruksikan penangguhan serangan terhadap Iran, mengakhiri operasi militer yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Meski ada kabar baik dari global, rupiah masih gagal menguat. Iran sendiri membantah telah meminta perundingan dengan AS dan mengatakan setiap pembicaraan di masa depan akan bergantung pada perubahan sikap Washington. Pasar pun tetap menunggu langkah konkret dari pengambil kebijakan di dalam negeri untuk menahan laju pelemahan rupiah.