PAGARALAM — Pergantian kepemimpinan di lingkungan Polres Pagaralam membawa angin segar bagi warga Kecamatan Pagaralam Utara. Iptu M. Dea Fajrul Falah, S.Tr.K., resmi menjabat sebagai Kapolsek dengan membawa paradigma baru: polisi tidak hanya menunggu laporan kejahatan, tetapi aktif membangun sistem keamanan sejak dari tingkat akar rumput.
Perwira muda yang lahir di Jombang, Jawa Timur, ini menegaskan bahwa tugasnya kini bukan sekadar mengejar target pengungkapan kasus. Ia ingin mengubah cara kerja kepolisian dari yang reaktif menjadi preventif, dimulai dari pemetaan kerawanan berbasis data hingga pelayanan yang humanis.
Dalam menjalankan roda organisasi, Iptu Dea menitikberatkan pada empat fondasi utama. Pertama, bekerja berbasis data untuk memetakan potensi gangguan. Kedua, melayani masyarakat dengan hati. Ketiga, mencegah kejahatan sebelum terjadi. Keempat, menegakkan hukum secara profesional dan berkeadilan.
"Polsek Pagaralam Utara bukan sekadar merespons kejahatan, tetapi membangun keamanan melalui data, pelayanan, pencegahan, dan penegakan hukum yang profesional. Keamanan yang berkelanjutan hanya bisa terwujud melalui kolaborasi antara Polri, pemerintah, dan masyarakat," ujarnya.
Jejak karier Iptu Dea terbilang moncer untuk usia yang relatif muda. Kariernya dimulai sebagai Kanit Turjawali Samapta Polres Empat Lawang pada 2022 hingga 2023. Dua tahun berikutnya, ia dipercaya memegang posisi Kanit Pidum dan Kanit Pidsus di Polres yang sama.
Setelah itu, ia berpindah ke Polrestabes Palembang. Di kota besar tersebut, ia menjabat sebagai Panit Reskrim Polsek Sukarami sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kanit 8 Satresnarkoba. Rentang pengalaman di unit reserse kriminal dan narkoba ini menjadi bekal berharga untuk memimpin Polsek di wilayah yang memiliki kompleksitas tinggi.
Wilayah hukum Pagaralam Utara memiliki tantangan unik. Di satu sisi, kawasan ini menyimpan potensi wisata alam yang menarik pengunjung. Di sisi lain, aktivitas pertanian yang padat dan nuansa perkotaan menuntut pendekatan keamanan yang adaptif.
Iptu Dea menilai keberhasilan institusinya tidak diukur dari jumlah perkara yang berhasil diungkap semata. Ukuran utamanya adalah kemampuan menghadirkan rasa aman di tengah masyarakat sebelum gangguan kamtibmas terjadi. Karena itu, langkah preventif terus dikedepankan dengan pelayanan yang cepat dan responsif.
Sejalan dengan semangat Polri Presisi, ia berharap sinergi dengan pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, kalangan pemuda, hingga seluruh lapisan masyarakat dapat terus diperkuat. Keamanan, menurutnya, adalah tanggung jawab bersama yang dibangun melalui kepercayaan, kolaborasi, dan pelayanan yang tulus kepada masyarakat.