PALEMBANG — Sebanyak 11 kabupaten/kota di Sumatera Selatan resmi masuk zona merah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat puncak musim kemarau tahun ini. BPBD Sumsel mencatat Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan kejadian karhutla terbanyak, yakni 132 kasus, disusul Musi Banyuasin dengan 118 kejadian.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan perluasan zona merah ini menunjukkan bahwa potensi kebakaran tidak lagi hanya terjadi di wilayah yang sejak awal dikenal rawan. Prabumulih menjadi daerah terbaru yang masuk kategori zona merah setelah jumlah kejadian di kota itu mencapai 32 kasus.
Data BPBD Sumsel menunjukkan sebaran kejadian karhutla yang hampir merata di seluruh wilayah provinsi. Selain OKI dan Muba, sejumlah daerah lain juga mencatatkan angka kejadian yang tinggi hingga awal Agustus 2026.
Sudirman mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Ia meminta warga segera melapor jika menemukan titik api agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kalau menemukan adanya kebakaran, segera laporkan supaya bisa ditangani lebih cepat," kata Sudirman, Senin (10/8/2026).
Menghadapi meningkatnya ancaman karhutla, dukungan operasi udara di Sumsel diperkuat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyetujui permintaan Pemprov Sumsel untuk menambah dua helikopter water bombing.
Dengan tambahan tersebut, total armada udara yang disiapkan untuk penanganan karhutla menjadi tujuh helikopter water bombing dan dua helikopter patroli. Kalaksa BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana mengatakan tambahan armada ini diharapkan mempercepat penanganan kebakaran, khususnya di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
"Alhamdulillah BNPB akan menambah dua helikopter water bombing untuk penanganan karhutla saat puncak musim kemarau di Sumsel. Sehingga, nantinya akan ada tujuh helikopter water bombing dan dua patroli udara yang disiagakan," ujar Iqbal.
Meluasnya wilayah yang masuk zona merah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. BPBD Sumsel bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan titik kebakaran di sejumlah wilayah untuk mencegah meluasnya karhutla selama puncak musim kemarau.
Masyarakat diimbau aktif berpartisipasi dalam pengawasan lingkungan sekitar, mengingat periode Agustus hingga September diperkirakan masih menjadi masa dengan risiko karhutla tinggi.