SUMATERA SELATAN — Ishak Naser menegaskan bahwa persoalan pemangkasan TKD tidak bisa dilihat hanya dari angka dalam APBD. Kebijakan fiskal, menurut dia, berhubungan langsung dengan pelaksanaan otonomi daerah dan kemampuan pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Bagaimana bisa anda mendesentralisasi kekuasaan pemerintahan tanpa diikuti dengan mendesentralisasi fiskal? Otoritas fiskal itu melekat pada pemerintah," tegasnya dalam Dialog Publik Kwatak Bacarita Season 2 bertema "Menakar Visi Misi Pemkot Tidore dan Imbas Pemangkasan Dana TKD".
Ishak menjelaskan, daerah tidak akan mampu menjalankan kewenangan secara maksimal apabila ruang fiskalnya terus dipersempit. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pembangunan, termasuk sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Kondisi ini mau diulangi lagi dengan sekarang di TKD. Daerah tidak bisa bergerak menurut kemajuan pembangunan, sementara daerah lain menikmati," ujarnya.
Ia mencontohkan, potensi ekonomi Tidore seharusnya dapat dikonversi menjadi kekuatan pembangunan. Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah semakin sulit menggerakkan program sesuai kebutuhan masyarakat.
Tokoh adat itu menegaskan, sikap Kesultanan Tidore terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah final dan tidak perlu dipertanyakan. Namun, ia mengingatkan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bentuk pengingat ketika kebijakan dinilai keliru.
"Kalau pemerintah tidak melakukan kesalahan dan tidak salah menginterpretasi sejarah sehingga tidak keliru dalam membuat kebijakan, kita tidak akan kritik. Tapi kalau salah, pasti kita kritik," tegasnya.
Ishak juga mengaitkan kebijakan fiskal saat ini dengan perjalanan sejarah Tidore. Ia meminta pemerintah pusat memahami sejarah daerah secara utuh sebelum menetapkan kebijakan yang berdampak terhadap masyarakat.
"Orang tidak memahami sejarah itu tidak akan bisa mewujudkan keadilan," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ishak menyampaikan peringatan keras kepada pemerintah pusat agar tidak menganggap remeh dampak kebijakan yang dinilai tidak memberikan rasa keadilan bagi masyarakat Tidore.
"Kita bangsa yang punya martabat. Sangat kuat menahan lapar, tapi Anda tidak akan tahu bahasa apa yang muncul dari seorang yang lapar. Itu peringatan saya," katanya.
Ia juga menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Prabowo. "Kalau Indonesia sudah bosan dengan Tidore, tolong disampaikan secara baik-baik. Agar Tidore juga akan keluar dengan baik-baik," tegas Ishak.
Forum Kwatak Bacarita Season 2 digelar di halaman bekas Kantor Gubernur Irian Barat, Tidore. Acara ini menjadi ruang untuk membahas kemampuan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menjalankan visi dan misi pembangunan di tengah tekanan fiskal akibat pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat.