Pemkab Lahat Bangun Pabrik Kopi Bubuk demi Naikkan Harga Jual 56.000 Ton Green Bean Petani

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 12:31:32 WIB
Bupati Lahat Bursah Zarnubi menyampaikan rencana hilirisasi kopi dalam wawancara di kantornya, Minggu (23/8/2026).

LAHAT — Kabupaten Lahat selama ini lebih dikenal sebagai penghasil batu bara dan kelapa sawit. Padahal, daerah ini merupakan salah satu produsen kopi terbesar di Sumatera Selatan dengan produksi tahunan mencapai 56.000 ton biji kopi.

Namun, hampir seluruh hasil panen petani masih dijual dalam bentuk biji mentah atau green bean. Kondisi itu membuat nilai ekonomi yang diterima petani jauh dari potensi sebenarnya karena harga jual di tingkat petani cenderung rendah.

Produksi 56.000 Ton per Tahun, Petani Masih Jual Biji Mentah

Bupati Lahat Bursah Zarnubi mengungkapkan, luas perkebunan kopi milik masyarakat mencapai 56.000 hektare dengan produktivitas rata-rata 1 ton per hektare. Artinya, potensi produksi kopi di daerahnya mencapai 56.000 ton setiap tahun.

"Untuk kopi di Lahat itu produksinya pertahun kurang lebih 56.000 ton dengan luas lahan 56.000 hektare, artinya 1 hektare lahan menghasilkan 1 ton biji kopi," katanya saat dikonfirmasi detikSumbagsel, Minggu (23/8/2026).

Selama ini, mayoritas petani menjual hasil panennya dalam bentuk biji kopi mentah atau basah. Akibatnya, harga jual di tingkat petani tidak pernah mencapai titik maksimal meskipun kualitas kopi Lahat dikenal baik.

Hilirisasi Dinilai Kunci Dongkrak Nilai Jual

Pemkab Lahat menilai pengolahan biji kopi menjadi produk siap konsumsi menjadi langkah strategis yang harus segera direalisasikan. Dengan mengubah green bean menjadi bubuk kopi atau melalui proses roasting, nilai jual produk dipastikan melonjak signifikan.

"Jadi selama ini nilai ekonomi yang didapat tidak terlalu besar bagi petani, karena mereka menjual biji mentah, sehingga nilai jualnya kurang (kurang mahal). Jadi kami akan melakukan hilirisasi menjadikan Green Bean jadi bubuk kopi atau di rosting, agar nilai jualnya tinggi," ujarnya.

Rencana pendirian pabrik kopi bubuk, termasuk kemasan saset, diharapkan mampu menjadi pengungkit ekonomi baru di Kabupaten Lahat. Selain memperkuat popularitas kopi khas daerah, pabrik ini juga diproyeksikan menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.

Target: Serap Tenaga Kerja dan Tambah PAD

Keberadaan pabrik pengolahan kopi dinilai akan memberikan efek berantai bagi perekonomian masyarakat. Mulai dari stabilitas harga di tingkat petani, penyerapan tenaga kerja, hingga peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Jadi kami ingin akan membuat pabrik kopi seperti kopi sachet itu, supaya bisa menampung tenaga kerja, menampung pendapatan masyarakat dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ya harus ada inovasi salah satunya yaitu hilirisasi," jelasnya.

Bursah menambahkan, sebenarnya sebagian masyarakat sudah mulai memproduksi kopi bubuk secara mandiri. Hanya saja, skala produksi masih kecil dan belum terorganisir dengan baik sehingga belum mampu menembus pasar yang lebih luas.

Branding "Kopi Bubuk Lahat" untuk Pasar Nasional

Pemkab Lahat berencana merangkul para pelaku usaha lokal dan petani untuk memperkuat branding kopi khas Lahat di pasar nasional. Saat ini, produk kopi bubuk yang beredar di masyarakat masih beragam dan belum memiliki identitas merek yang kuat.

"Kopi bubuk yang ada di Lahat itu, bubuknya macam-macam. Ke depan saya mau membesarkan branding Lahat, jadi nantinya saat dijual keluar kota sudah ada nama kopi bubuk Lahat," ujarnya.

Namun, realisasi pembangunan pabrik tersebut masih menunggu tambahan alokasi fiskal dari pemerintah pusat. Pemkab Lahat menargetkan pabrik kopi bubuk milik daerah bisa mulai dibangun pada tahun depan jika anggaran telah tersedia.

"Namun itu belum masif, Insyaaalah tahun depan semoga Fiskal ditambah oleh pemerintah, kita akan mau buat pabrik sendiri, lya kita butuh inovasi agar Lahat bisa maju," pungkasnya.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top