PALEMBANG — Pembangunan monumen ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Juang Polri. Target penyelesaian seluruh proyek dijadwalkan pada Oktober 2026, menjadikannya ruang edukasi bagi personel dan masyarakat umum mengenai sejarah kepolisian di Bumi Sriwijaya.
Ketua Pelaksana Pembangunan Monumen sekaligus Karo SDM Polda Sumsel, Kombes Pol. Sudrajat Hariwibowo, S.I.K., M.Si., menyatakan materi sejarah yang dituangkan dalam relief disusun berdasarkan arsip kepolisian, literatur, dokumentasi foto, serta keterangan keluarga dan ahli waris pelaku sejarah.
Relief monumen akan memuat lima tema besar perjalanan kepolisian. Kelima tema itu mencakup masa penjajahan Belanda dan Jepang, pengibaran Merah Putih 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945–1949, pembentukan dan perkembangan Polda Sumsel, serta pengabdian Polda Sumsel kepada masyarakat pada masa kini.
Salah satu peristiwa penting yang diabadikan adalah pengibaran Bendera Merah Putih di Kantor Polisi 10 Ulu Palembang pada akhir Agustus 1945. Sekitar 100 anggota polisi ketika itu mengikuti upacara yang dilanjutkan dengan sumpah kesetiaan kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Relief juga akan menggambarkan perjuangan polisi bersama tentara, laskar, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Termasuk di dalamnya Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1–5 Januari 1947 serta kiprah sejumlah tokoh kepolisian hingga 1949.
Proses verifikasi data sejarah dilakukan secara cermat. Kombes Pol. Sudrajat mengungkapkan, pihaknya telah melakukan anjangsana langsung ke keluarga almarhum AKBP Agoestjik Bakri untuk memperkuat keterangan sejarah.
“Materi sejarah disusun dengan mengacu pada arsip dan dokumen kepolisian, literatur sejarah, dokumentasi foto dan media, serta keterangan keluarga maupun ahli waris pelaku sejarah. Salah satunya diperkuat melalui keterangan keluarga almarhum AKBP Agoestjik Bakri, yang telah dikunjungi secara langsung oleh Bapak Kapolda dalam kegiatan anjangsana,” ujar Kombes Pol. Sudrajat Hariwibowo, S.I.K., M.Si.
Pengerjaan relief dipercayakan kepada pengrajin dari Boyolali menggunakan plat tembaga premium dengan berat keseluruhan kurang lebih 360 kilogram. Pemilihan material ini bertujuan menghasilkan ukiran yang lebih timbul dengan detail maksimal, sekaligus mendukung kekuatan dan daya tahan monumen dalam jangka panjang.
Selain merekam sejarah masa lalu, bagian relief akan menggambarkan wajah Polda Sumsel pada era Presisi. Bentuk pengabdian yang diukir antara lain pelayanan publik, ketahanan pangan, tata kelola sumur minyak masyarakat, Command Center, bantuan sosial, penyediaan air bersih, pembangunan infrastruktur, hingga sinergi Forkopimda sebagai Super Team.
Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., menegaskan monumen ini diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi seluruh personel. Menurutnya, pengabdian Polri saat ini merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu.
“Monumen ini bukan hanya untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga untuk menghidupkan nilai perjuangan itu dalam setiap pelaksanaan tugas. Generasi Polri saat ini harus menjaga warisan tersebut melalui integritas, profesionalisme, prestasi, dan pengabdian terbaik kepada masyarakat,” ujar Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H.
Mengusung semangat “Merawat Ingatan, Menghormati Pengabdian, dan Mewariskan Nilai Perjuangan”, pembangunan monumen ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi personel Polri, generasi muda, dan masyarakat. Polda Sumsel ingin memastikan nilai keberanian, pengorbanan, kesetiaan kepada NKRI, serta pengabdian kepada masyarakat terus hidup dan menjadi semangat bagi setiap personel untuk tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi turut menciptakan sejarah baru.