SUMATERA SELATAN — Kabar ini mencuat dari unggahan Johari Abdul Ghani di akun Facebook pribadinya, sebagaimana disitat Paultan, Minggu (30/8). Dalam pernyataannya, Johari menyebut kemitraan Daihatsu-Perodua akan fokus pada pengembangan kendaraan listrik di Malaysia. Namun, detail teknis maupun jadwal peluncuran belum diumumkan secara resmi.
Spekulasi soal wujud mobil listrik garapan kolaborasi ini langsung mengemuka. Banyak pihak menduga Perodua QV-E, mobil listrik berbasis baterai (BEV) pertama buatan Malaysia yang dikembangkan mandiri oleh Perodua, akan menjadi basis atau bahkan langsung di-rebadge oleh Daihatsu.
Spekulasi ini bukan tanpa alasan. Daihatsu merupakan pemegang saham utama Perodua dan telah memasok platform, mesin, serta transmisi selama 33 tahun keberadaan pabrikan asal Malaysia itu. Pola rebadge pun bukan hal baru bagi keduanya.
Di Indonesia, Daihatsu Sirion pada dasarnya adalah Perodua Myvi, sementara Daihatsu Terios memiliki kembaran yang dijual sebagai Perodua Aruz. Kedekatan historis ini membuat langkah rebadge untuk kendaraan listrik terbilang mudah dieksekusi.
Di sisi lain, Perodua tidak berdiam diri. Pabrikan yang bermarkas di Selangor itu dikabarkan tengah menggarap model segmen A yang lebih kecil dari QV-E, dibangun di atas platform EV yang dikembangkan oleh Magna Steyr. Platform yang sama juga digunakan pada QV-E.
Model segmen A ini dipersiapkan untuk bersaing langsung dengan Proton eMas 5 di pasar mobil listrik Malaysia yang mulai ramai. Kehadiran model ini sekaligus menunjukkan keseriusan Perodua dalam elektrifikasi, bukan sekadar mengikuti tren.
Jika benar Daihatsu ikut mengambil peran dalam pengembangan model tersebut, bukan tidak mungkin pasar Indonesia juga akan kebagian versi rebadge-nya di masa depan, mengingat pola serupa sudah terjadi pada beberapa model sebelumnya. Namun, semua masih sebatas prediksi dan belum ada konfirmasi resmi dari kedua pabrikan.