PALEMBANG — Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan Sudirman menyatakan lonjakan titik panas terpantau dalam pantauan satelit terbaru. Angka itu naik signifikan dibandingkan pantauan sebelumnya yang hanya sekitar 600 titik.
"Berdasarkan data hasil pantauan satelit peningkatan jumlah titik panas (hotspot) cukup tinggi, sebelumnya terdapat sekitar 600 titik, hari ini terpantau 759 titik dan diprediksi bisa terus meningkat," kata Sudirman di Palembang, Senin.
Prediksi kenaikan itu membuat BPBD tidak menunggu situasi memburuk. Sejumlah langkah antisipasi disiapkan, mulai dari patroli hingga imbauan langsung ke warga.
Peningkatan titik panas dinilai berisiko memicu karhutla sekaligus memperparah kabut asap. Sudirman menyebut kabut asap sudah muncul sejak sebulan terakhir dan mulai mengganggu kesehatan serta berbagai aktivitas masyarakat.
Kegiatan belajar di sekolah termasuk yang terdampak. Kondisi itu membuat pengawasan terhadap titik panas tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan lewat patroli rutin di wilayah yang paling berisiko.
BPBD Sumsel mengerahkan patroli darat dan udara untuk mencegah karhutla. Untuk patroli udara, operasi didukung sejumlah helikopter dari BNPB.
Di darat, BPBD menyiapkan berbagai peralatan pemadam api dan tindakan lain guna mencegah api menyebar ke kawasan hutan dan lahan. Satgas Gabungan TNI/Polri, Manggala Agni, dan unsur lain dikerahkan mendukung operasi tersebut.
BPBD memetakan sejumlah daerah yang paling rawan karhutla pada musim kemarau 2026. Empat kabupaten yang masuk daftar itu adalah Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ilir.
Warga di wilayah tersebut diminta lebih waspada terhadap potensi titik api di sekitar permukiman dan lahan garapan. Sumsel sendiri memiliki kawasan hutan sekitar 3,5 juta hektare yang menjadi fokus pengawasan.
BPBD mengimbau masyarakat menghindari kegiatan membakar sampah dan pembersihan lahan. Warga juga diminta melakukan pembasahan pada lahan kering sebagai langkah antisipasi.
Langkah pencegahan bersama satgas gabungan disebut sebagai bentuk tanggung jawab pelaksanaan tugas menghadapi karhutla. Dengan titik panas yang masih berpotensi naik, patroli dan pengawasan diperkirakan berlanjut mengikuti perkembangan pantauan satelit.