PALEMBANG — Dua helikopter water bombing (WB) berjenis M18 MTV-1/RA-22279 dan VH-8HL/Sikorsky UH 60-L resmi memperkuat armada udara penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Kedua helikopter tersebut telah melalui proses verifikasi sebelum diterjunkan ke lokasi pemadaman.
Kepala Bidang Penanganan Darurat Sumsel Sudirman menyatakan tambahan armada ini langsung dioperasikan untuk mendukung pemadaman dari udara. Total helikopter WB yang kini disiagakan di Sumsel mencapai enam unit.
"Iya, ada tambahan dua helikopter WB untuk penanganan karhutla. Jadi, total ada enam helikopter WB yang disiagakan di Sumsel," ujar Sudirman.
Dua Helikopter Baru Langsung Diterjunkan ke OKI dan Muara Enim
Pada Kamis (18/9), kedua helikopter tambahan itu telah ditugaskan melakukan pemadaman di dua wilayah berbeda. Lokasi pertama adalah Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir (OKI), dan lokasi kedua di Gelumbang, Muara Enim.
"Kemarin dua helikopter ini sudah melakukan pemadaman di wilayah OKI dan Muara Enim," tambah Sudirman.
Pemadaman jalur udara difokuskan pada titik-titik karhutla yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Metode water bombing dinilai mempercepat proses pemadaman sekaligus menahan api agar tidak meluas ke area lain.
Puncak Musim Kemarau Dorong Peningkatan Kejadian Karhutla
Penambahan armada udara ini tidak terlepas dari lonjakan kejadian karhutla yang terjadi belakangan. Sudirman menyebut puncak musim kemarau menjadi pemicu utama meningkatnya titik api di wilayah Sumsel.
"Penambahan dua helikopter WB ini juga seiring dengan meningkatnya angka kejadian karhutla di puncak musim kemarau saat ini," katanya.
Selain enam helikopter WB, dua armada patroli udara masih standby melakukan pemantauan titik-titik api. Total dukungan armada udara yang diterima Sumsel saat ini mencapai delapan unit.
"Jadi saat ini ada enam helikopter WB dan dua armada patroli," tukasnya.
Delapan Armada Udara Belum Tentu Cukup jika Titik Api Meluas
Dengan luas wilayah Sumsel yang mencakup lahan gambut dan perkebunan, operasional delapan armada udara menghadapi tantangan tersendiri. Rotasi pengisian air, jarak antar-lokasi, dan kondisi angin menjadi faktor yang menentukan efektivitas pemadaman dari udara.
Pemerintah daerah belum menyampaikan rencana penambahan armada berikutnya. Pemantauan titik api melalui patroli udara akan terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung.