SUMATERA SELATAN — Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara menggelar pelatihan pijat baduta bagi 34 tenaga kesehatan dari 17 Puskesmas sepanjang 27-30 September 2026. Pelatihan empat hari ini membekali nakes dengan keterampilan stimulasi pijat berbasis bukti, konseling orang tua, hingga tata laksana layanan di fasyankes.
Pelatihan berlangsung di aula lantai II RSUD Muara Teweh dengan format gabungan: dua hari daring pada 27-28 September 2026, lalu dua hari luring pada 29-30 September 2026. Setiap puskesmas mengirimkan dua orang peserta.
Ketua panitia pelatihan, Ermidawati, SKM, menyampaikan laporan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan tradisional yang aman, bermutu, terstandar, dan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan.
Baduta atau bayi bawah dua tahun berada di fase pertumbuhan paling pesat. Stimulasi yang tepat di masa ini membantu optimalisasi perkembangan motorik, kognitif, dan emosional anak.
Pijat baduta bukan sekadar tradisi turun-temurun. Metode ini kini diintegrasikan ke layanan kesehatan formal dengan pendekatan berbasis bukti, sehingga manfaatnya bisa dipertanggungjawabkan secara medis.
Peserta dilatih lima kompetensi inti yang saling berkaitan. Materi pertama adalah pemahaman konsep dasar stimulasi pijat berbasis bukti untuk pertumbuhan dan perkembangan baduta.
Materi berikutnya mencakup pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak usia bawah dua tahun, termasuk cara mendeteksi dini penyimpangan tumbuh kembang.
Kompetensi ketiga adalah konseling dan edukasi kepada orang tua. Nakes tidak hanya memijat, tetapi juga harus mampu mengajarkan teknik ini kepada ibu atau pengasuh agar bisa dilakukan rutin di rumah.
Dua kompetensi terakhir berkaitan dengan pelayanan pijat baduta di fasyankes serta tata laksana penyelenggaraan yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan anak.
Ermidawati menekankan bahwa pelayanan pijat baduta harus memperhatikan aspek keamanan, kebutuhan tumbuh kembang anak, komunikasi dengan orang tua atau pengasuh, serta prinsip pelayanan kesehatan yang sesuai ketentuan yang berlaku.
Poin komunikasi dengan orang tua menjadi krusial. Tanpa pemahaman yang cukup, orang tua bisa salah mengartikan teknik pijat atau melakukannya pada kondisi anak yang tidak memungkinkan.
Program pelatihan dirancang sebanyak 30 jam pelajaran (JPL). Kegiatan ini bekerja sama dengan institusi pelatihan Primamed Nusa Persada yang telah terakreditasi "B" Kementerian Kesehatan RI.
Dengan akreditasi tersebut, materi yang diberikan mengikuti standar kompetensi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Peserta yang lulus diharapkan dapat langsung menerapkan keterampilan di puskesmas masing-masing.
Kehadiran tenaga terlatih di 17 puskesmas membuka peluang layanan pijat baduta tersedia lebih merata. Ibu yang datang ke puskesmas untuk imunisasi atau pemeriksaan rutin bisa sekaligus berkonsultasi soal stimulasi pijat.
Model integrasi ini memangkas kebutuhan rujukan ke fasilitas yang lebih jauh. Untuk daerah dengan jangkauan geografis luas seperti Barito Utara, layanan yang dekat dengan rumah menjadi nilai tambah tersendiri.
Pijat baduta sebaiknya dilakukan saat bayi dalam kondisi tenang, tidak lapar, dan tidak baru selesai makan. Hindari memijat ketika bayi demam, rewel berat, atau sedang sakit.
Gunakan minyak yang aman untuk kulit bayi dan pastikan tangan dalam keadaan bersih dan hangat. Tekanan harus lembut, terutama di area perut dan kepala.
Jika bayi menangis terus atau menunjukkan tanda tidak nyaman, hentikan pijatan. Konsultasikan ke tenaga kesehatan bila ada keluhan tumbuh kembang yang mencurigakan.
Pelatihan di Barito Utara menunjukkan bahwa stimulasi pijat baduta kini punya tempat resmi dalam layanan kesehatan. Orang tua bisa memanfaatkan tenaga terlatih di puskesmas terdekat untuk mempelajari teknik yang benar sekaligus memantau tumbuh kembang anak secara berkala.