Pempek Abin Anissa Banyuasin Tembus Hong Kong dan Jerman, Sebulan Jual 130 Ribu Butir

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 09:01:02 WIB
Pekerja menyelesaikan proses pembuatan pempek di rumah produksi Pempek Abin Anissa di Banyuasin, Sumatera Selatan.

BANYUASIN — Abin menjalankan produksi pempek dari rumah sederhana bersama enam perempuan yang bekerja membuat adonan, membentuk, memasak, hingga mengemas produk. Sebagian hasil produksi dikirim ke pelanggan di berbagai daerah, sementara sang kakak membantu memasarkan pempek melalui siaran langsung di salah satu platform e-commerce.

Usaha yang kini berjalan lima tahun itu tidak dimulai dari dapur produksi. Abin lebih dulu menjual kerupuk dan kemplang lewat status WhatsApp, sebelum pertanyaan pelanggan soal kesediaan pempek mendorongnya belajar membuat pempek secara otodidak bersama istri.

Belajar dari YouTube, Sebulan Baru Temukan Rasa yang Pas

Berbekal video YouTube, Abin dan istri mempelajari proses pembuatan pempek. Butuh satu bulan penuh sebelum keduanya menemukan rasa dan ukuran yang pas.

Pada 5 September 2021, Abin membuka toko pempek di Jalan Rawa Sari, Palembang, sambil memperdalam produksi. Dua tahun toko itu berjalan, namun belum menunjukkan perkembangan berarti karena persaingan penjualan pempek di Kota Palembang sangat ketat.

"Saya mengibaratkan Palembang sebagai zona merah untuk penjualan pempek," kata Abin, dikutip dari keterangannya, Kamis (24/9/2026).

Dari Jualan Satuan ke Sistem Paket, Lalu Tembus Pasar Luar Negeri

Abin mengubah strategi dengan memanfaatkan teknologi dan membuka toko online. Sang kakak membantu memasarkan produk lewat siaran langsung di e-commerce, dan tanpa ekspektasi besar, pelanggan mulai memesan pempek secara satuan.

Penjualan satuan secara digital dinilai lebih rumit karena harus menghitung jumlah pemesanan. Abin pun berinisiatif menjual pempek dengan sistem paket.

"Penjualan pempek satuan secara digital ini lebih rumit karena harus menghitung jumlah pemesanan. Jadi saya berinisiatif untuk menjualnya dengan sistem paket," katanya.

Dari titik itu, bisnis pempeknya berkembang pesat. Pesanan datang dari marketplace, hingga suatu hari muncul permintaan pengiriman ke Hong Kong dan Jerman. Kini konsumen kedua negara itu memesan langsung lewat telepon.

"Saya tidak menyangka usaha pempek ini bisa sampai ke Hongkong dan Jerman," ujar Abin.

Delapan Pekerja di Dua Kota, 130 Ribu Pempek Terjual per Bulan

Seiring pertumbuhan usaha, Abin merekrut tenaga kerja. Enam orang dipekerjakan di Palembang untuk membuat pempek, sedangkan dua orang di Tangerang memudahkan proses pengiriman.

"Dalam sebulan kami berhasil menjual 130 ribu pempek hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk Hongkong dan Jerman," tuturnya.

Baru 37,84 Persen UMKM Sumsel Manfaatkan E-Commerce

Pempek Abin Anissa menjadi salah satu contoh pelaku UMKM Sumatera Selatan yang memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar. Namun transformasi digital di kalangan pelaku usaha daerah ini belum merata.

Data BPS tahun 2024 yang dirilis pada 2025 menunjukkan pelaku usaha yang telah memanfaatkan e-commerce hanya sekitar 37,84 persen. Sisanya, 62,16 persen, belum menjadikan perdagangan elektronik sebagai bagian dari strategi pemasaran.

Meski belum optimal, publikasi e-commerce tiga tahun terakhir memperlihatkan tren pertumbuhan usaha digital di Sumatera Selatan. Jumlah usaha e-commerce pada 2022 tercatat 31.348 usaha, tumbuh 10,80 persen pada 2023, lalu melonjak 73,86 persen hingga mencapai 60.385 usaha pada 2024.

Pada data jumlah usaha e-commerce menurut provinsi tahun 2024, Sumatera Selatan berada di peringkat ke-7 dari 10 provinsi di Pulau Sumatera dengan 60.385 usaha.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: relung.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top