SUMATERA SELATAN — Nilai jual kembali Honda Brio di pasar mobil bekas Jabodetabek tergolong kuat, dengan Brio Satya E otomatis masih ditawarkan pada 72-80 persen dari harga barunya. Angka itu membuat Brio bekas nyaris menyamai harga unit baru, ditopang kenaikan harga mobil baru per Oktober 2026.
Pengamatan dilakukan pada iklan dalam radius 65 kilometer dari Bojonggede, Kabupaten Bogor, yang mencakup Bogor, Depok, Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Hanya mobil keluaran 2021 hingga 2026 yang dihitung.
Untuk mengukur kekuatan harga tersebut, digunakan satu parameter, yakni nilai sisa (residual value). Nilai sisa adalah perbandingan antara harga mobil bekas dan harga mobil baru dengan tipe yang sama saat ini.
Semakin tinggi persentasenya, semakin kecil nilai yang hilang ketika pemilik menjual kendaraannya. Dari situ terlihat bahwa Brio Satya E justru lebih tahan harga dibanding varian RS.
Sebagai acuan, harga Brio baru per Oktober 2026 untuk wilayah Jakarta adalah Rp206,7 juta untuk Satya E CVT dan Rp264,1 juta untuk RS CVT. Adapun varian termurah, Satya S bertransmisi manual, dijual Rp170,4 juta.
Kenaikan harga mobil baru inilah yang ikut menopang harga Brio bekas di pasaran. Ketika harga unit baru naik, harga jual kembali pun cenderung ikut terkerek.
Brio Satya E otomatis keluaran 2022 dan 2023 ditawarkan secara tunai pada Rp148 juta hingga Rp159 juta, setara nilai sisa 72-77 persen. Rentang itu menunjukkan permintaan terhadap varian otomatis masih solid di Jabodetabek.
Bagi calon pembeli, kondisi ini berarti Brio bekas usia muda bukan lagi pilihan hemat dibanding unit baru. Selisih harga yang tipis membuat pembeli perlu menghitung ulang biaya kepemilikan, termasuk pajak dan asuransi.
Dari data yang dihimpun, Brio Satya E otomatis menjadi varian paling tahan harga di pasar bekas Jabodetabek. Sementara RS, meski lebih mahal saat baru, justru kehilangan nilai lebih cepat dalam persentase.