SUMATERA SELATAN — Antrean BBM di Bali yang sempat mencapai lebih dari empat jam membuat sejumlah warga mulai mempertimbangkan beralih ke kendaraan listrik. Fenomena awal pekan ketiga Oktober itu membaik setelah Pertamina menormalisasi distribusi dan pemda menerapkan ganjil-genap BBM bersubsidi. Dua warga Denpasar yang diwawancarai ANTARA mengaku minatnya terhadap motor dan mobil listrik menguat.
Rai, warga Denpasar berusia 55 tahun, mengaku sempat mengandalkan rekan kerjanya yang memakai motor listrik untuk mencari SPBU yang masih beroperasi. Pengalaman itu muncul saat antrean pembelian BBM di berbagai sudut Pulau Dewata membeludak dan sejumlah SPBU memasang tulisan "stok habis" atau "SPBU tutup".
Durasi antrean yang dilalui pengendara bisa melewati empat jam, berlangsung hingga malam. Pemandangan itu ramai di media sejak awal pekan ketiga Oktober, sebelum berangsur terurai pada akhir pekan yang sama.
Rai menyebut SPBU di dekat kediamannya di Nusa Dua, Kuta Selatan, sudah mulai pulih sejak Jumat (16/10). Meski begitu, pengalaman tersebut cukup mengubah cara pandangnya terhadap kendaraan listrik.
"Waktu itu ada teman yang pakai motor listrik, dia jadi penyelamat kalau ada yang perlu dicari di luar kantor. Sampai bantu cariin pom bensin (SPBU) yang masih jualan," ujar Rai kepada ANTARA ketika dihubungi dari Jakarta, Minggu (18/10).
Pandangan serupa datang dari Antania, 29 tahun. Warga Bali ini mengaku ketertarikannya beralih dari motor konvensional ke motor listrik sebenarnya sudah tumbuh sebelum antrean panjang terjadi.
Artinya, kelangkaan BBM bukan satu-satunya pemicu. Faktor lain seperti biaya operasional harian dan kemudahan pengisian daya di rumah turut berperan dalam keputusan konsumen.
Kondisi pasokan BBM di Bali berangsur normal setelah Pertamina melakukan normalisasi distribusi. Pemerintah daerah juga menerapkan kebijakan ganjil-genap untuk pembelian BBM bersubsidi guna menekan lonjakan permintaan.
Kombinasi dua langkah itu mempercepat pemulihan antrean di sejumlah SPBU. Rai sendiri mencatat antrean di wilayahnya sudah jauh berkurang sejak akhir pekan lalu.
Ketertarikan warga Bali terhadap kendaraan listrik menambah sinyal permintaan di pasar yang selama ini tumbuh lewat insentif pemerintah. Motor listrik dan mobil listrik berbasis baterai menjadi opsi yang makin dilirik ketika pasokan BBM bersubsidi terganggu.
Bagi konsumen, keputusan beralih tetap bergantung pada ketersediaan jaringan pengisian daya, harga unit, dan skema subsidi yang berlaku. Pengalaman antrean empat jam menjadi pengingat konkret bahwa ketergantungan pada satu sumber energi punya risikonya sendiri.