SUMATERA SELATAN — PT Angkasa Pura Indonesia menyerahkan satu unit rumah layak huni kepada Darwati, warga Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, Palembang, pada Selasa (20/10/2026). Bantuan itu menjadi bagian program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan di zona penyangga Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Penyerahan dilakukan langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Ahmad Syaugi Shahab memastikan program serupa tidak berhenti di satu penerima. Menurut dia, bantuan rumah layak huni akan digulirkan rutin setiap tahun dengan sasaran warga di sekitar wilayah operasional bandara.
Kawasan Kebun Bunga dan Sukarami masuk daftar prioritas karena berbatasan langsung dengan Bandara SAMS. "Kami melihat proposal dan melakukan tabulasi data," ujar Ahmad Syaugi dalam keterangan resmi.
Angkasa Pura memasang syarat ketat sebelum menetapkan penerima. Calon penerima wajib memiliki status kepemilikan tanah atau sertifikat yang jelas, langkah untuk mencegah sengketa di kemudian hari.
Verifikasi dilakukan berlapis, mulai dari penelusuran proposal warga hingga pencocokan data kependudukan. Prinsipnya, kata Ahmad Syaugi, bantuan harus tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah hukum baru bagi penerima maupun perusahaan.
Rumah Darwati sebelumnya dinilai tidak layak huni. Setelah dibedah, hunian itu kini memenuhi standar tempat tinggal yang aman dan nyaman.
Gubernur Herman Deru menilai program bedah rumah sebagai bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah daerah dan dunia usaha. Ia berharap langkah Angkasa Pura memantik perusahaan lain, baik BUMN maupun swasta, untuk ikut berkontribusi.
"Program ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya untuk memantik hasrat dan kepedulian instansi lain," ujar Herman Deru saat serah terima.
Menurut Gubernur, pemenuhan kebutuhan dasar berupa hunian layak merupakan prioritas pembangunan manusia. Ia menyebut program semacam ini selalu menjadi primadona karena dampaknya langsung terasa di tingkat warga.
"Dari keuntungan yang sedikit pun, jika dikelola dengan niat baik, dapat menciptakan kebahagiaan bagi masyarakat," tambahnya.
Acara penyerahan di Lorong Seroja II itu dihadiri perwakilan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Sumsel, Dinas Perhubungan Provinsi Sumsel, Satpol PP Provinsi Sumsel, serta jajaran internal Angkasa Pura seperti Kepala Biro Umum dan Perlengkapan, Kepala Biro Humas dan Protokol, dan Koordinator Tim Gerakan Ubah Pola Pikir (TGUPP).
Di sisi operasional, Angkasa Pura terus mengevaluasi layanan Bandara SAMS. Perusahaan menjalin koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan kenyamanan penumpang, terutama saat cuaca ekstrem.
Langkah itu diambil agar keluhan soal penampungan dan layanan dasar bagi pengguna jasa bandara tidak lagi muncul. Perbaikan fasilitas dan ketepatan informasi penerbangan menjadi fokus evaluasi.
Bagi Angkasa Pura, program TJSL di zona penyangga bukan sekadar kewajiban korporasi. Hubungan harmonis dengan warga sekitar bandara dinilai menopang kelancaran operasi, termasuk saat pembebasan lahan atau penanganan dampak kebisingan.
Penyerahan rumah kepada Darwati menjadi contoh kecil dari pola itu. Dampaknya terasa langsung bagi satu keluarga, sementara bagi perusahaan, program ini menjaga legitimasi sosial di tengah masyarakat yang hidup berdampingan dengan bandara.