Kodam II Sriwijaya Percepat Pembangunan 26 Jembatan di Sumatera Selatan

Penulis: Nasrul Effendi  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 12:02:54 WIB
Pembangunan 26 jembatan di Sumatera Selatan dipercepat oleh Kodam II Sriwijaya untuk meningkatkan akses warga.

PALEMBANG — Pembangunan infrastruktur jembatan di pelosok Sumatera Selatan terus menunjukkan kemajuan signifikan. Proyek yang diinisiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan warga ini mencakup 26 titik strategis yang sebelumnya sulit dijangkau atau memiliki infrastruktur yang rusak parah.

Kepala Penerangan (Kapendam) II Sriwijaya, Letkol Inf Yordania, menjelaskan bahwa proyek ini bermula dari perhatian Presiden Prabowo terhadap kondisi anak-anak sekolah yang harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan jalur berbahaya. Kehadiran jembatan baru ini diharapkan menjadi urat nadi baru bagi mobilitas warga di pedesaan.

“Setelah ada jembatan, manfaatnya luar biasa: pendidikan, perdagangan, lalu lintas ekonomi semua terhubung. Hasil bumi yang sebelumnya tidak bisa diangkut kendaraan berat, sekarang bisa,” ujar Letkol Yordania saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (06/05/2026).

Akses Pendidikan dan Pemerataan Ekonomi Warga

Fokus utama dari pembangunan ini adalah daerah-daerah yang memiliki karakteristik geografis dengan banyak aliran sungai. Letkol Yordania menyebutkan bahwa jembatan yang dibangun merupakan hasil survei mendalam terhadap infrastruktur yang putus akibat bencana alam maupun jembatan yang kondisinya rusak 100 persen.

Sebelum adanya perbaikan, terdapat enam titik jembatan yang sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan. Warga hanya bisa melintas dengan berjalan kaki, yang tentunya menghambat pengangkutan hasil pertanian dalam skala besar. Dengan jembatan beton dan gantung yang baru, akses kendaraan diharapkan mampu memicu pemerataan ekonomi di wilayah sekitarnya.

Kodam II Sriwijaya juga membandingkan karakteristik pembangunan ini dengan wilayah lain, seperti Kodam III Jawa Barat yang memiliki ratusan jembatan karena kondisi sungai yang lebih dalam. Di Sumatera Selatan, tantangannya adalah lebar sungai yang cukup luas meski di beberapa titik cenderung dangkal.

Spesifikasi Proyek: Dominasi Jembatan Gantung Garuda

Dari total 26 unit yang dikerjakan, mayoritas unit merupakan Jembatan Gantung Garuda. Kapendam merinci bahwa hanya ada sekitar tiga atau empat unit yang berupa jembatan beton, sementara sisanya menggunakan konstruksi jembatan gantung yang lebih fleksibel untuk bentang sungai di wilayah tersebut.

“Hanya tiga atau empat yang lainnya (beton). Sebagian besar jembatan gantung,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, TNI mengedepankan metode gotong royong dengan melibatkan masyarakat setempat. Langkah ini diambil agar warga merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga infrastruktur tersebut setelah selesai dibangun. Sinergi antara prajurit dan warga menjadi kunci percepatan pengerjaan di lapangan.

Kendala Teknis dan Tahapan Anggaran

Meskipun target penyelesaian dipatok pada tahun ini, Letkol Yordania mengakui adanya tantangan teknis pada beberapa titik di tahap ketiga. Tingkat kesulitan yang tinggi muncul pada jembatan dengan bentang mencapai 120 meter. Sebagai perbandingan, jembatan gantung non-pemerintah terpanjang yang pernah ada di Aceh mencapai 200 meter.

Berbeda dengan pembangunan batalyon atau program rutin yang memiliki tenggat waktu kaku, proyek jembatan ini dikerjakan secara bertahap. Saat ini, progres telah memasuki tahap 1 dan tahap 3.

“Jembatan ini berbeda. Satu sesi harus selesai dulu, baru kemudian ada perencanaan tahap berikutnya. Saat ini sudah tahap 1 dan tahap 3, sementara tahap 4 belum ada dan belum ada anggarannya,” pungkasnya.

Reporter: Nasrul Effendi
Back to top