Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) resmi mempertahankan kebijakan harga tiket Piala Dunia yang dinilai sangat tinggi untuk pasar Amerika Serikat. Presiden FIFA Gianni Infantino berdalih langkah ini mengikuti regulasi hukum AS yang mengizinkan penjualan kembali tiket dengan nilai fantastis.
Kebijakan komersial FIFA menjelang perhelatan Piala Dunia mendatang memicu gelombang protes dari kelompok suporter global. Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara terbuka pasang badan terhadap struktur harga tiket yang dianggap mencekik bagi sebagian besar penggemar sepak bola.
Infantino menegaskan bahwa badan tertinggi sepak bola dunia tersebut berkewajiban memanfaatkan hukum di Amerika Serikat. Regulasi di Negeri Paman Sam memang memungkinkan tiket dijual kembali di pasar sekunder dengan harga ribuan dolar di atas nilai aslinya.
Dalam skema ini, FIFA tidak hanya menetapkan harga awal yang tinggi. Organisasi tersebut mengonfirmasi mengambil potongan sebesar 30 persen dari setiap transaksi yang terjadi di pasar penjualan kembali atau resale market.
Langkah ini diambil guna memaksimalkan pendapatan di salah satu pasar olahraga paling menguntungkan di dunia. Namun, bagi para suporter, kebijakan ini dianggap sebagai bentuk komersialisasi yang sudah melampaui batas kewajaran dan mencederai semangat olahraga.
Kelompok pendukung Football Supporters Europe (FSE) bereaksi keras terhadap pembelaan Infantino. Mereka melabeli struktur harga tersebut sebagai sebuah "pengkhianatan monumental" terhadap nilai-nilai dasar sepak bola yang seharusnya bisa diakses semua kalangan.
FSE tidak tinggal diam dengan hanya melontarkan kritik di media massa. Pada Maret lalu, organisasi ini resmi mengajukan gugatan hukum kepada Komisi Eropa untuk menantang kebijakan FIFA yang dinilai sangat eksploitatif terhadap kantong penonton.
FSE dalam gugatannya menyebut struktur harga tiket tersebut sebagai tindakan "pemerasan" yang terencana. Mereka menilai FIFA sengaja memanfaatkan celah hukum untuk mengeruk keuntungan maksimal dari loyalitas suporter yang ingin menyaksikan tim nasional mereka bertanding.
Perselisihan ini diprediksi terus memanas seiring mendekatnya jadwal turnamen. Para penggemar kini menanti apakah Komisi Eropa akan melakukan intervensi terhadap kebijakan harga tiket yang dianggap membatasi akses penonton kelas menengah ke bawah tersebut.