MUARA ENIM — Kabupaten Muara Enim sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung sumber daya alam terbesar di Sumatera Selatan. Di bawah tanahnya tersimpan cadangan batu bara dalam jumlah besar, minyak bumi dan gas alam tersebar di sejumlah titik, serta potensi panas bumi yang terbuka luas. Namun kekayaan itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan warganya.
Setiap hari, puluhan gerbong kereta api batu bara melintas silih berganti dari Muara Enim menuju pelabuhan dan pusat industri. Perusahaan-perusahaan besar seperti PT MHP, PT Tanjungenim Lestari (PT TeL), PTPN VII, hingga korporasi tambang raksasa telah lama menjadikan daerah ini sebagai wilayah operasi ekonomi bernilai tinggi.
Di atas tanah yang sama, sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan persawahan hidup di hampir seluruh kecamatan—mulai dari Semende hingga Gelumbang. Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) berkembang, perkebunan karet dan sawit terus berproduksi. Namun warga di akar rumput masih menanggung beban yang tak kunjung usai.
Salah satu komoditas andalan Muara Enim adalah kopi Semende, yang tumbuh di dataran tinggi dengan karakter rasa khas. Kopi ini mulai dikenal di kancah internasional dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. Dari lereng-lereng pegunungan Semende, kopi tidak hanya menjadi sumber penghidupan warga, tetapi juga membawa nama daerah ini ke pasar yang lebih luas.
Meski begitu, para petani kopi di Semende masih menghadapi persoalan klasik: rantai distribusi yang panjang, harga tengkulak yang fluktuatif, serta minimnya akses terhadap pasar langsung. Ironi ini menjadi potret bagaimana kekayaan alam belum sepenuhnya dirasakan oleh mereka yang mengelolanya.
Di kecamatan-kecamatan seperti Gelumbang, Lawang Kidul, dan Tanjung Agung, warga masih mengeluhkan infrastruktur dasar yang belum memadai. Jalan rusak, akses air bersih terbatas, serta fasilitas kesehatan dan pendidikan yang belum merata menjadi keluhan yang terus berulang.
Sementara itu, sektor pertambangan batu bara yang menjadi primadona ekonomi daerah justru kerap meninggalkan dampak lingkungan. Debu batu bara, kerusakan jalan akibat lalu lintas truk tambang, hingga penurunan kualitas udara menjadi risiko yang harus ditanggung warga setiap hari.
Muara Enim memiliki semua modal untuk menjadi daerah yang sejahtera: sumber daya alam melimpah, komoditas pertanian berkelas dunia, serta perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di dalamnya. Namun persoalannya bukan pada potensi, melainkan pada pengelolaan dan distribusi manfaat yang belum berpihak pada warga kecil.
Pengamat sosial politik dan hukum adat, Marshal, menilai bahwa kekayaan alam Muara Enim harus dikelola dengan prinsip keadilan dan keberlanjutan. "Tanpa tata kelola yang baik, kekayaan itu hanya akan dinikmati segelintir pihak, sementara rakyat tetap menanggung beban," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Muara Enim belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan warga yang menginginkan pemerataan hasil sumber daya alam. Namun sejumlah organisasi masyarakat sipil dan tokoh adat mulai mendorong agar dilakukan audit manfaat dari setiap perusahaan yang beroperasi di daerah ini.
Pertanyaan besarnya: akankah kekayaan alam Muara Enim benar-benar menjadi berkah bagi rakyatnya, atau hanya akan terus menjadi ironi di atas tanah yang kaya raya?