LAHAT — Bisnis wartel dan warnet yang dulu menjamur di sudut-sudut kota kini tinggal kenangan. Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru menyebut fenomena itu sebagai alarm bagi daerah untuk beradaptasi dengan era digital agar tidak tertinggal saat Indonesia Emas 2045 tiba.
“Perubahan teknologi telah menggeser banyak jenis usaha konvensional, seperti wartel, warnet, hingga konter pulsa tradisional akibat layanan digital yang kini serba daring,” ujar Herman Deru saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Lahat dalam rangka HUT ke-157 Kabupaten Lahat, Rabu (20/5/2026).
Dalam sambutannya, Herman Deru mengingatkan bahwa Kabupaten Lahat merupakan salah satu kabupaten tertua di Sumatera Selatan. Usia pemerintahannya bahkan lebih panjang dibandingkan Provinsi Sumsel yang kini genap 80 tahun.
Ia juga menyinggung sejarah pemekaran wilayah yang melahirkan sejumlah daerah otonomi baru dari Kabupaten Lahat. Menurutnya, sejarah panjang itu harus menjadi modal bagi Lahat untuk tangguh menghadapi disrupsi, bukan sekadar nostalgia masa lalu.
Herman Deru menilai arah pembangunan Kabupaten Lahat saat ini sudah tepat. Di bawah kepemimpinan Bupati Bursah Zarnubi, penguatan sumber daya manusia menjadi prioritas utama.
“Kepemimpinan Bupati Bursah Zarnubi membawa Kabupaten Lahat semakin berkembang dan memiliki masa depan yang menjanjikan,” tegasnya.
Gubernur dua periode itu mengingatkan bahwa bonus demografi yang diproyeksikan memuncak pada 2045 bisa menjadi bencana jika tidak diimbangi dengan kualitas SDM yang mumpuni. Masyarakat harus siap berkompetisi di era digital yang serba otomatis.
“Ini peringatan bagi kita semua. Masyarakat harus siap menghadapi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045,” kata Herman Deru.
Ia mendorong pemerintah daerah dan masyarakat Lahat untuk mempercepat literasi digital serta menyesuaikan kurikulum pendidikan lokal dengan kebutuhan industri masa depan. Jika tidak, lapangan kerja akan diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah yang lebih adaptif terhadap teknologi.