PALEMBANG — Ironi besar menyelimuti Sumatera Selatan. Di satu sisi, provinsi ini menyimpan kekayaan alam luar biasa: batubara triliunan ton, minyak bumi yang mengalir puluhan tahun, gas alam di berbagai kabupaten, serta perkebunan karet, kopi, sawit, dan lada yang membentang luas. Sungai-sungai besar pun menjadi jalur perdagangan sejak zaman dahulu.
Namun, di sisi lain, masyarakat masih mempertanyakan mengapa kekayaan itu belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan. Marshal, Pengamat Sosial Politik dan Hukum Adat, menuliskan pertanyaan itu dalam sebuah analisis yang beredar luas: "Mengapa rakyatnya masih seperti tikus mati di lumbung padi?"
Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) terus berkembang. Perusahaan-perusahaan besar seperti PT Tanjungenim Lestari (PT TeL), MHP, dan PTPN VII beroperasi di wilayah ini. Perkebunan karet dan sawit pun tak berhenti berproduksi.
Namun, Marshal menilai justru di situlah letak ironi. "Sebuah daerah yang begitu kaya ternyata belum sepenuhnya mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat yang hidup di atas tanahnya sendiri," tulisnya.
Sawah-sawah terbentang luas di berbagai kabupaten. Sungai-sungai besar masih menjadi urat nadi distribusi ekonomi. Namun, pertanyaan tentang distribusi manfaat terus mengemuka di tengah masyarakat.
Belum ada data resmi terbaru dari pemerintah provinsi mengenai angka kemiskinan atau tingkat kesejahteraan masyarakat secara spesifik. Namun, analisis Marshal menyoroti kesenjangan antara potensi sumber daya alam yang luar biasa dengan kondisi riil warga di lapangan.
Pengamat itu menekankan bahwa kalimat "tikus mati di lumbung padi" memang terdengar keras, tetapi justru menggambarkan kegelisahan yang semakin sering terdengar. Sumatera Selatan memiliki segalanya untuk menjadi daerah makmur, namun persoalan tata kelola dan distribusi menjadi tantangan utama yang harus segera dijawab oleh pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.