SUMATERA SELATAN — Langkah tegas mulai digaungkan. Maxwell, dalam wawancara dengan BBC Sport Scotland, menegaskan bahwa masuk ke lapangan saat ini bukan lagi aksi spontan yang tak berbahaya. “Sepak bola harus bersatu untuk mengurangi ini,” ujarnya, Kamis (23/5).
SPFL (Liga Profesional Sepak Bola Skotlandia) telah memulai investigasi disipliner terhadap lima pertandingan yang mengalami invasi suporter. Dua di antaranya terjadi di laga penentuan gelar Premiership.
Insiden paling panas terjadi di perempat final Piala Skotlandia antara Celtic dan Rangers. Suporter kedua kubu membanjiri rumput setelah laga usai. Laporan independen soal peristiwa itu dijadwalkan keluar pekan depan.
Ancaman tak berhenti di pinggir lapangan. Wasit John Beaton dan keluarganya harus mendapat pengamanan polisi di rumah setelah data pribadi mereka disebar secara ilegal. Seorang pemuda 19 tahun sudah ditetapkan sebagai tersangka terkait pelanggaran data protection.
Kemarahan suporter dipicu keputusan kontroversial Beaton yang memberikan penalti di menit akhir untuk Celtic pada laga pekan kedua terakhir. Celtic akhirnya juara di musim itu.
“Saat data wasit bocor, itu tidak bisa diterima,” tegas Maxwell. Ia juga menyoroti pernyataan klub, pelatih, pemain, bahkan media yang kerap memicu spekulasi soal bias dan konspirasi. “Kritik adalah bagian dari permainan. Tapi saat masuk ke tuduhan bias dan konspirasi, itu sudah melewati batas,” tambahnya.
Satu celah hukum jadi sorotan. Di Inggris dan Wales, memasuki lapangan adalah pelanggaran pidana. Di Skotlandia, belum. Maxwell mendorong legislasi baru yang mengkriminalisasi aksi itu, termasuk tailgating—masuk stadion tanpa tiket dengan mengikuti pengunjung lain.
“Polisi punya peran, SPFL bicara soal undang-undang. Tapi ini bukan masalah yang bisa diselesaikan satu pihak sendiri,” ujarnya.
Di tengah hiruk-pikuk keamanan, Maxwell juga membantah tudingan bahwa Skotlandia hanya menggunakan VAR versi murah. “Saya dengar komentar soal VAR light terus-menerus. Itu omong kosong,” katanya.
Ia mengklaim sistem yang dipakai Skotlandia identik dengan lebih dari 50% negara UEFA, dengan teknologi dan jumlah kamera yang sama. “VAR berfungsi memberantas kesalahan. Tapi orang lebih suka membicarakan keputusan yang masih salah, atau bahkan yang sebenarnya benar tapi diperdebatkan karena beda dukungan tim,” pungkas Maxwell.