SUMATERA SELATAN — Final Liga Champions yang digelar di stadion netral menyajikan drama menegangkan. Laga berakhir tanpa gol setelah 120 menit, sebelum PSG keluar sebagai pemenang 5-4 dalam babak tos-tosan. Momen paling krusial terjadi saat Gabriel maju sebagai eksekutor kelima Arsenal. Tendangan pemain Brasil itu melambung jauh di atas mistar, memicu euforia di kubu Paris.
Babak adu penalti menjadi panggung bagi para algojo PSG. Keempat eksekutor pertama mereka sukses menjalankan tugas dengan sempurna. Sementara itu, Arsenal sempat menyamakan kedudukan lewat Martin Odegaard, Bukayo Saka, Declan Rice, dan Kai Havertz.
Tekanan akhirnya jatuh ke pundak Gabriel. Tendangan kerasnya yang justru melambung tanpa arah langsung memastikan PSG menjadi juara untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Kapten PSG, Marquinhos, menjadi sosok yang mengangkat trofi di tengah gemuruh pendukungnya.
Sepanjang waktu normal dan perpanjangan waktu, kedua tim bermain hati-hati. PSG mendominasi penguasaan bola, namun lini belakang Arsenal yang dikomandoi William Saliba tampil disiplin. Di sisi lain, serangan balik cepat The Gunners beberapa kali merepotkan pertahanan PSG, namun tak ada satu pun yang berbuah gol.
Peluang emas tercipta di menit ke-89. Kylian Mbappe lolos dari jebakan offside, tapi tembakannya masih bisa ditepis kiper Arsenal, David Raya. Beberapa menit kemudian, tembakan jarak jauh Leandro Trossard juga masih membentur tiang gawang PSG. Skor 0-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Gelar ini menjadi pencapaian bersejarah bagi PSG, yang selama bertahun-tahun berjuang merebut mahkota Liga Champions. Sejak investasi besar-besaran dilakukan, final menjadi target utama, dan kini mimpi itu terwujud. Bagi pelatih PSG, trofi ini menjadi bukti kejeliannya meramu strategi di laga puncak.
Bagi Arsenal, kekalahan ini tentu meninggalkan luka. Mereka tampil heroik sepanjang turnamen, namun kegagalan di momen paling krusial harus dibayar mahal. The Gunners kini harus kembali menyusun kekuatan untuk musim depan.