PALEMBANG — Data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan pelemahan signifikan pada salah satu sektor andalan ekspor Sumatera Selatan. Nilai ekspor olahan minyak dan lemak nabati dan hewani (kode SITC 43) pada Maret 2026 hanya tercatat 2,59 juta ton. Jumlah ini merosot tipis jika dibandingkan bulan sebelumnya, namun anjlok jauh dari catatan Maret 2025 yang masih menyentuh 3,28 juta ton.
Di tengah pelemahan sektor minyak nabati, batu bara tetap mendominasi. Berdasarkan rekap dokumen pabean, ekspor batu bara, kokas, dan briket (kode SITC 32) per Maret 2026 mencapai 148,25 juta ton. Angka ini menjadikannya komoditas dengan volume ekspor tertinggi dari total 19 kelompok barang yang tercatat di provinsi ini.
Komoditas lain yang turut berkontribusi adalah karet mentah, sintetis, dan pugaran (SITC 23) dengan volume 113,57 juta ton. Diikuti oleh barang-barang kayu dan gabus (SITC 63) yang mencapai 9,94 juta ton. Sementara itu, kelompok barang lainnya yang tidak disebutkan secara spesifik tercatat sebesar 117,56 juta ton.
Data historis 13 bulan terakhir memperlihatkan volatilitas ekspor Sumsel. Volume tertinggi pernah diraih pada Februari 2026 sebesar 7,33 juta ton, sementara titik terendah terjadi pada Mei 2025 dengan angka 2,19 juta ton. Fluktuasi ini menjadi catatan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat diversifikasi produk ekspor non-batu bara.
Penurunan ekspor minyak nabati ini menjadi perhatian serius. Pasalnya, sektor ini merupakan salah satu penopang devisa daerah yang kerap diandalkan selain batu bara. Belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel mengenai penyebab spesifik penurunan ini, namun tekanan harga komoditas global kerap menjadi faktor utama.