SUMATERA SELATAN — Direktur Operasi & Marketing PDC, Agam Munawar, mengatakan uji coba ini menjadi batu loncatan untuk menghadirkan solusi operasional yang lebih efisien dan ramah lingkungan. "Kami ingin mengukur sejauh mana teknologi ini mampu menekan konsumsi bahan bakar tanpa mengurangi keandalan alat berat," ujarnya di Jakarta.
Sistem ini menggabungkan solar dan CNG melalui perangkat converter kit yang menyuntikkan gas ke ruang bakar secara terkontrol. Hasil pengujian awal menunjukkan, kombinasi ini bisa mengurangi pemakaian solar hingga 40% tanpa mengorbankan torsi yang dibutuhkan alat berat saat beroperasi.
Tahap awal difokuskan pada unit trailer dan excavator yang memiliki risiko operasional lebih rendah. Selama masa percobaan, PDC akan memantau aspek keselamatan, keandalan sistem, dan performa alat secara ketat.
Jika proyek percontohan berhasil, PDC menargetkan penerapan teknologi ini secara bertahap ke unit alat berat lainnya. Langkah ini tidak hanya menekan biaya operasional perusahaan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan gas domestik yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.
"Kami melihat potensi teknologi ini mendukung optimalisasi sumber daya gas nasional. Ke depan, pengembangan ekosistem CNG di sektor industri diharapkan memberi manfaat ekonomi sekaligus mendukung agenda transisi energi pemerintah," kata Agam.
Inovasi ini menjadi bagian dari transformasi operasional PDC yang berorientasi pada efisiensi dan keberlanjutan. Di tengah meningkatnya tantangan industri energi, perusahaan jasa penunjang migas ini berupaya menghadirkan model operasional alat berat yang lebih hemat energi dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
PDC sendiri merupakan anak usaha PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) yang bergerak di jasa pengeboran dan perawatan sumur migas. Uji coba dual fuel system ini menjadi salah satu upaya holding migas negara untuk menekan ketergantungan pada solar impor.